Oleh: Sahat P Pasaribu, SH
Industri kerap dituding sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan, rakus energi, tinggi emisi dan jauh dari kepentingan masyarakat. Namun di tengah stigma tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) justru menunjukkan arah berbeda.
Melalui pemanfaatan energi bersih, inovasi industri, dan pendekatan sosial yang terintegrasi, Inalum membuktikan bahwa industri tidak harus menjadi masalah, melainkan dapat menjadi bagian dari solusi menuju masa depan berkelanjutan.
Sebagai produsen aluminium primer strategis nasional, Inalum beroperasi di sektor yang dikenal sangat intensif energi. Secara global, industri aluminium identik dengan konsumsi listrik tinggi dan ketergantungan pada energi fosil, dua faktor yang menjadikannya kontributor signifikan emisi karbon.
Namun, Inalum memilih jalur berbeda dengan menjadikan energi terbarukan sebagai fondasi operasional. Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menjadi kunci utama dalam proses produksinya. Strategi ini tidak hanya menekan emisi karbon, tetapi juga menciptakan efisiensi jangka panjang.
Di saat banyak industri menghadapi tekanan akibat fluktuasi harga energi fosil dan tuntutan regulasi global, Inalum justru berada pada posisi yang lebih stabil dan adaptif. Dalam konteks ini, energi bersih bukan lagi sekadar komitmen lingkungan, tetapi telah menjadi sumber keunggulan kompetitif.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita. Ia menyatakan bahwa perusahaan terus mendorong industri peleburan aluminium berkelanjutan melalui modernisasi teknologi, efisiensi energi, serta penguatan rantai pasok.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari penerapan industri hijau yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat. “Bersama para pemangku kepentingan, kami berkomitmen memberikan kontribusi yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.
Keberlanjutan yang dijalankan Inalum tidak berhenti pada aspek energi. Perusahaan juga mendorong transformasi industri melalui inovasi berkelanjutan mulai dari modernisasi teknologi produksi, peningkatan efisiensi energi, hingga pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar upaya mengurangi dampak negatif, tetapi juga menciptakan nilai tambah, baik bagi perusahaan maupun lingkungan.
Lebih jauh, kekuatan Inalum terletak pada kemampuannya mengintegrasikan aspek sosial ke dalam strategi bisnis. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat. Pemberdayaan UMKM, pelatihan keterampilan, serta dukungan pada sektor pendidikan dan kesehatan menjadi bukti nyata komitmen tersebut.
Hal ini diperkuat oleh Ka-Grup Layanan Strategis, Daniel Hutahuruk, yang menegaskan bahwa komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) di Inalum bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, melainkan fondasi utama dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa kinerja operasional harus selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan, pemberdayaan masyarakat serta tata kelola yang transparan. “Melalui inovasi dan kolaborasi, kami terus berupaya menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah Inalum sejalan dengan agenda nasional dalam mendorong hilirisasi industri dan transisi energi. Aluminium sebagai material strategis memiliki peran penting di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur hingga energi terbarukan. Dengan dukungan energi bersih dan inovasi berkelanjutan, Inalum tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga memastikan prosesnya tetap ramah lingkungan.
Meski demikian, tantangan ke depan tidak dapat diabaikan. Standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) akan semakin ketat. Di sisi lain, risiko praktik greenwashing juga menjadi perhatian, ketika klaim keberlanjutan tidak selalu sejalan dengan implementasi di lapangan. Karena itu, konsistensi, transparansi, dan akuntabilitas menjadi kunci untuk menjaga kredibilitas.
Dalam hal ini, Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) menjadi instrumen penting untuk mengukur kinerja perusahaan secara objektif. Lebih dari sekadar kepatuhan, PROPER mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dan melampaui standar minimum.
Sejak 2022, Inalum mencatatkan capaian signifikan dengan meraih empat PROPER Emas dan tiga PROPER Hijau. PROPER Emas diperoleh dari Pabrik Peleburan pada 2022, Unit PLTA pada 2023, serta kembali diraih Pabrik Peleburan pada 2024 dan 2025. Sementara PROPER Hijau diraih Unit PLTA pada 2022, Pabrik Peleburan pada 2023, serta Unit PLTA pada 2024 dan 2025.
Capaian tersebut memperkuat posisi Inalum sebagai perusahaan yang tidak hanya patuh terhadap regulasi, tetapi juga konsisten melampaui standar dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Pada akhirnya, yang ditunjukkan Inalum adalah arah baru bagi industri nasional: bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus bertentangan dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Melalui sinergi energi bersih, inovasi industri, dan pemberdayaan masyarakat, Inalum menghadirkan model pembangunan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
Di titik ini, Inalum tidak sekadar menunjukkan bahwa industri bisa berubah, tetapi juga menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari keberanian mengambil arah berbeda.
Ketika energi bersih dijadikan fondasi, inovasi sebagai strategi, dan masyarakat sebagai mitra, maka keberlanjutan bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang memberi dampak. Inilah bukti bahwa masa depan industri Indonesia tidak hanya dapat tumbuh, tetapi juga tumbuh secara bertanggung jawab dan bermakna.(*)
Tulisan ini dilombakan dalam Kompetisi InJournal (Inalum Journalistic)






