DUNIA  

Perang Timur Tengah Makin Panas, Iran Ancam Balas AS hingga Selat Hormuz Mencekam

Semakin Memanas: Perang Timur Tengah semakin memanas (Foto:Social Media via REUTERS/Social Media via CNBCIndonesia)

Jakarta, Mediautama.news – Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Iran memperingatkan akan terjadi eskalasi baru dengan Amerika Serikat (AS), sementara bentrokan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman juga meningkat.

Berikut sejumlah perkembangan terbaru, melansir rangkuman CNBC Indonesia.
1. Iran Ancam Balasan ke AS
Komando Pusat militer Iran memperingatkan setiap serangan baru ke wilayahnya akan dibalas dengan serangan berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan AS. Negara-negara sekutu AS di kawasan juga akan dianggap sebagai bagian dari konflik. Iran menegaskan tidak akan lagi menahan diri jika AS kembali menyerang.

2. Arab Saudi Lancarkan 28 Serangan ke Yaman
Kelompok Houthi menyatakan Arab Saudi melancarkan 28 serangan udara ke sejumlah wilayah Yaman dalam 24 jam terakhir.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan serangan menyasar Taiz, Al-Jawf dan Marib dengan menggunakan jet F-15 dan Typhoon. Serangan tersebut terjadi setelah Arab Saudi melaporkan serangan rudal balistik Houthi ke arah Riyadh.

Departemen Luar Negeri AS juga membatasi perjalanan pegawai pemerintahnya ke Taif dan Yanbu karena situasi keamanan yang meningkat.

3. China Didesak Terlibat
Mantan pejabat Gedung Putih dan keamanan nasional AS, Mark Pfeifle, menyebut China dapat berperan mendorong diplomasi antara AS dan Iran. Menurutnya, permintaan Arab Saudi agar Beijing membantu menghadapi Houthi serta hubungan China dengan Iran dapat membuka ruang diplomasi baru.

4. Trump dan Xi Akan Bertemu
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada 24 September.
Pejabat AS dan China sebelumnya telah melakukan pembicaraan mengenai perdagangan, kecerdasan buatan, mineral tanah jarang dan konflik Iran. China menjadi mitra ekonomi penting Iran dan merupakan pembeli utama minyak Iran.

5. Ekonomi Iran Tertekan
Perekonomian Iran mengalami kontraksi 10,1% secara tahunan pada periode akhir Maret hingga akhir Juni 2026.
Ekonomi Iran juga masih menghadapi inflasi dan pelemahan mata uang. Inflasi pada Juli 2026 tercatat 87,9% secara tahunan.

6. Harga Emas Stabil
Harga emas relatif stabil pada Senin. Harga emas spot berada di sekitar US$4.379,74 per ons, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,1% menjadi US$4.419,40 per ons. Pergerakan emas masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, harga minyak dan imbal hasil obligasi.

7. Harga Minyak Turun
Harga minyak turun ke level terendah sejak 10 September. Brent tercatat US$101,71 per barel, turun 2,08%, sedangkan WTI berada di US$98,15 per barel atau turun 2,14%. Pasar mencermati pemulihan sebagian pengiriman minyak dari Arab Saudi serta peluang diplomasi untuk meredakan konflik AS-Iran.

8. Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz pada akhir pekan kembali menurun. Hanya 12 kapal komoditas tercatat melintasi selat tersebut pada Sabtu dan Minggu, turun hampir dua pertiga dibandingkan 35 kapal pada akhir pekan sebelumnya.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan perdamaian sementara.

Sementara itu, Badan Operasi Maritim Inggris menyebut tingkat ancaman di jalur perairan tersebut masih tinggi. Sedikitnya tiga serangan terhadap kapal dilaporkan dalam tiga hari terakhir.(r)

Editor: Edward