Jakarta, Mediautama.news – Singapura tengah mempersiapkan langkah besar untuk menjaga ketersediaan pasokan listrik negaranya. Sebanyak lima pembangkit lisrik tenaga gas alam direncanakan akan dibangun dan mulai beroperasi secara bertahap hingga tahun 2031.
Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan, selain untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan listrik, Singapura juga ingin memperkuat ketahanan energinya di tengah ketidakpastian pasokan di kawasan ini.
Mengutip laporan Channel News Asia dan melansir CNBCIndonesia, penambahan lima pembangkit ini diperkirakan akan meningkatkan kapasitas pembangkitan listrik Singapura sekitar 26%, dari 12 gigawatt yang tersedia saat ini.
Otoritas Pasar Energi Singapura (EMA) mencatat kebutuhan daya puncak mencapai 8,6 GW hingga Agustus 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 9,9–13 GW pada 2031, terutama akibat pertumbuhan industri semikonduktor, pusat data, dan penggunaan kendaraan listrik.
Selain membangun pembangkit, Singapura mengalokasikan SG$5,3 miliar atau sekitar Rp75,18 triliun untuk memperluas jaringan listrik selama 2025–2029. Investasi ini mencakup pembangunan tujuh gardu transmisi baru hingga 2031 dan perluasan jaringan kabel transmisi dari 7.700 kilometer menjadi 9.100 kilometer pada 2030.
Singapura juga mengembangkan energi surya dan penyimpanan energi. Kapasitas energi surya ditargetkan meningkat dari 2,3 GWp saat ini menjadi 3 GWp pada 2030 dan 4 GWp pada 2035. Sementara kapasitas penyimpanan energi ditargetkan melampaui 1 gigawatt-jam (GWh) pada 2030.
Untuk mendiversifikasi pasokan, Singapura turut menjajaki impor listrik rendah karbon dari negara tetangga, termasuk potensi energi angin lepas pantai Vietnam dan energi surya Malaysia. Kapasitas regasifikasi gas alam cair (LNG) juga direncanakan naik dari 10 juta ton menjadi 15 juta ton per tahun. Terminal LNG kedua di Jurong Port ditargetkan beroperasi pada 2030.
Menteri Perdagangan dan Industri Singapura yang membidangi Energi dan Industri, Tan See Leng, mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghadapi risiko gangguan pasokan energi.
Singapura saat ini masih mengandalkan gas alam untuk memenuhi sekitar 95% kebutuhan listriknya. Indonesia dilaporkan mulai mengurangi pasokan gas ke Singapura, meski jumlahnya kurang dari 2% kebutuhan gas harian negara tersebut.(r)
Editor: Edward






