Home / EKBIS

Sabtu, 7 November 2020 - 10:57 WIB

Dampak Boikot Produk Prancis Terhadap Perusahaan RI

Ket Foto : Ekonom menilai dampak boikot produk Prancis tak signifikan terhadap perusahaan di Indonesia.sen Ilustrasi. (CNNIndonesia.com).

Ket Foto : Ekonom menilai dampak boikot produk Prancis tak signifikan terhadap perusahaan di Indonesia.sen Ilustrasi. (CNNIndonesia.com).

MediaUtama | Jakarta – Aksi boikot produk buat Prancis masih berlangsung di Indonesia. Namun, sejumlah pengamat menilai aksi boikot itu tidak berdampak signifikan bagi perusahaan maupun perekonomian Indonesia.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan berdasarkan pengalaman aksi boikot berhasil menekan kinerja perusahaan apabila gerakan itu didukung oleh negara. Dalam arti, pemerintah setempat menyerukan gerakan boikot tersebut.

“Ketika boikot dilakukan negara dan didukung perusahaan besar, studi menunjukkan persentase keberhasilannya mempengaruhi perusahaan besar,” ujarnya dilansir dari CNNIndonesia.com, Sabtu (07/11/2020).

Aksi boikot produk Prancis ini dipicu ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.

Namun, untuk kasus produk Prancis boikot dilakukan oleh segelintir organisasi masyarakat (ormas). Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang telah mengecam pernyataan Macron tersebut, namun kepala negara tidak menyerukan boikot produk Prancis.

Imbauan boikot hanya diserukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada umat Islam. Pun demikian, MUI tidak mewajibkan aksi boikot tersebut.

“Pemerintah tidak menyinggung untuk boikot produk Prancis. Nah, gerakan boikot itu muncul dari solidaritas masyarakat dan tidak terlalu masif. Atas dasar itu kemudian studi dan fakta boikot tidak didukung negara maka dampaknya tidak terlalu signifikan menurunkan kinerja perusahaan,” jelasnya.

Sepakat, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai imbauan boikot produk Prancis tersebut belum tentu diikuti seluruh muslim Indonesia, karena merupakan keputusan individu. Karenanya, ia menilai aksi tersebut tidak berdampak signifikan pada Indonesia.

IKLAN ADS

“Seberapa besar efeknya kalau kepada ekonomi? Sebetulnya tidak terlalu besar karena impor dari Prancis tidak ada 1 persen (dari total impor). Artinya tidak signifikan untuk makro ekonomi,” jelasnya.

Selain itu, ia menilai kebanyakan produk buatan Prancis adalah produk lifestyle, bukan kebutuhan pokok. Tanpa boikot pun, lanjutnya, penjualan produk tersebut sudah turun drastis di tengah pandemi covid-19.

“Kalau untuk Indonesia sebetulnya produk prancis sudah banyak hanya lisensi. Jadi diproduksi di Indonesia dan made in sudah dibikin made in Indonesia, meskipun nama mereknya masih Prancis,” katanya.

Meski tidak signifikan pada ekonomi Indonesia, dampaknya tentu akan berbeda kepada Prancis. Terlebih, jika sejumlah pemerintah negara muslim menyatakan boikot secara resmi.

Impor Prancis ke Indonesia, kata Enny, nilainya mencapai lebih dari Rp9 triliun. Menurutnya, Prancis akan kesulitan mencari alternatif pasar baru yang sebesar Indonesia jika aksi ini berlanjut.

“Kalau boikot tidak diselesaikan Macron tahun depan, ini akan merepotkan ekonomi Prancis juga,” katanya.

[MU/CNNI]

Share :

Baca Juga

EKBIS

Lufthansa Catat Rugi Bersih Rp33,77 T Akibat Covid-19

EKBIS

China Akui Terpukul Perang Dagang

EKBIS

1 Juta Lebih Karyawan Terancam Gagal Terima Bantuan, Ini Penyebabnya

EKBIS

Emas Antam Mandek Rp762 Ribu per Gram Jelang Tutup Tahun

EKBIS

Bank Dunia Kucurkan Utang Rp3,6 T ke Indonesia Lawan Corona

EKBIS

IATMI : Skema Bagi Hasil Migas harus Menarik dan Fleksibel

EKBIS

Besok, Pemerintah Transfer Subsidi Gaji Rp 600 Ribu ke 2,5 Juta Karyawan

EKBIS

Pintu Kargo Meledak, Boeing Tunda Tes 777X