Jakarta, Mediautama.news – Meskipun kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita, pria juga berpotensi terkena penyakit ini, meskipun kasusnya sangat jarang, yaitu kurang dari satu persen dari total kasus kanker payudara.
Kanker payudara pada pria sering tidak terdeteksi lebih awal karena kurangnya kesadaran dan minimnya gejala yang mencolok. Pria biasanya tidak menganggap adanya benjolan di area dada sebagai potensi kanker, sehingga pengobatan sering kali baru dimulai pada tahap yang lebih lanjut.
Hal itu diungkapkan praktisi kesehatan masyarakat dr Ngabila, sebagai respon dari pertanyaan penonton dalam siaran Kementerian Kesehatan di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu (13/10/2024).
Kanker payudara pada laki-laki, kata Ngabila, biasanya disebabkan oleh hiperestrogenisme, atau kelebihan hormon esterogen, sehingga diberikan obat untuk menekan produksi hormon tersebut.
Gejala-gejalanya, ujarnya, sama dengan kanker payudara pada perempuan, di mana terdapat pembesaran payudara, payudara dan puting yang keras, puting tertarik ke dalam, dan cairan yang keluar dari puting.
“Pembesaran kelenjar getah bening, utamanya di daerah ketiak atau leher ataupun dagu. Dan juga ada berbau, terkadang ada berbau juga di daerah payudara,” jelas Ngabila.
Menurutnya, tata laksana kanker payudara pada pria pun sama, dimulai dengan melihat keparahannya dengan USG, mamogram, CT scan maupun MRI. Setelah itu, kemudian kemoterapi, radioterapi, pembedahan, dan pengambilan sel tumornya.
“Dan tentunya perlu terus dievaluasi. Karena pasien yang pernah mengalami tumor jinak ataupun tumor ganas pada payudara, itu sangat sering terjadi relapse atau kambuh menjadi tumor kembali,” dia mengingatkan.
Karena kekambuhan tersebut, lanjut dia, para survivor kanker disarankan untuk cek berkala, di mana tiap enam bulan sekali perlu melakukan pemeriksaan penunjang seperti USG maupun mamografi.
Dalam kesempatan itu, dia menjelaskan bahwa kanker payudara merupakan salah satu kanker yang banyak dan mematikan, dengan prevalensi sebesar 12 persen. Adapun persentase harapan hidup bagi penderita kanker stadium 3 dan 4 hanya 10 persen.
“Sedangkan kalau yang dideteksi di stadium 1 dan 2, itu kebalikannya. Bisa sembuh 80-90 persen,” ujarnya.
Persentase harapan hidupnya juga lebih tinggi, katanya, dan biaya terapinya tujuh kali lebih hemat kalau deteksi dilakukan secara dini.
Selain deteksi dini, katanya, dia mengingatkan untuk menghindari faktor risiko kanker payudara, seperti dengan mengurangi paparan zat karsinogenik antara lain rokok, mikroplastik, zat pengawet, dan zat kimia.(r)
Editor: Joko






