Paus Leo Minta Doa Khusus untuk China, Apa yang Terjadi?

Hadiri: Paus Leo XIV saat menghadiri udiensi dengan perwakilan media di aula Paulus VI, Vatikan, Senin (12/5/2025). (Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Jakarta, Mediautama.news – Paus Leo XIV, pemimpin baru umat Katolik Roma, secara mendadak menyerukan doa khusus bagi China. Seruan itu ia sampaikan dari jendela Istana Apostolik Vatikan pada Minggu (25/5/2025), di hadapan puluhan ribu umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.

Dalam pesannya, Paus mengenang Hari Doa Sedunia untuk Gereja di China yang diperingati setiap 24 Mei. Ia mengajak umat di seluruh dunia untuk mendoakan kehidupan umat Katolik di Negeri Tirai Bambu, yang dinilainya belum sepenuhnya bersatu dengan gereja universal.

“Di gereja-gereja dan tempat suci di China maupun di seluruh dunia, doa-doa dipanjatkan sebagai bentuk perhatian dan kasih kepada umat Katolik China, serta sebagai wujud persatuan mereka dengan Gereja universal,” ujar Paus Leo, seperti dikutip dari Al Jazeera dan dilansir dari CNBC Indonesia. Sekitar 35.000 orang hadir mendengarkan pesannya.

Ia menambahkan, “Doa-doa ini menjadi sumber rahmat bagi mereka dan juga bagi kita semua, agar mampu menjadi saksi Injil yang tangguh dan penuh sukacita, bahkan di tengah tantangan. Kita harus terus mendorong perdamaian dan keharmonisan.”

Hari Doa Sedunia bagi Gereja di China pertama kali ditetapkan oleh Paus Benediktus XVI. Tujuannya adalah menyatukan sekitar 12 juta umat Katolik di China, yang terbagi antara gereja resmi yang tunduk pada otoritas negara dan gereja bawah tanah yang tetap setia pada kepausan di Roma selama bertahun-tahun.

Hubungan telah lama tegang karena China bersikeras pada hak eksklusifnya untuk menunjuk uskup sebagai masalah kedaulatan nasional, sementara Vatikan bersikeras pada hak eksklusif Paus untuk menunjuk penerus para Rasul asli.

Hubungan dengan China tetap menjadi masalah yang sangat sensitif dalam gereja. Pada 2018, beberapa pendeta menolak kesepakatan antara Takhta Suci Vatikan yang saat itu dipimpin Paus Fransiskus dan China yang akhirnya memberikan Beijing hak bersuara dalam pengangkatan uskup Katolik di sana. Para pendeta yang menolak menganggap umat Katolik China ditekan oleh Partai Komunis.

Perjanjian tersebut ditujukan untuk menyatukan umat, mengatur status tujuh uskup yang tidak diakui oleh Roma, dan mencairkan ketegangan selama puluhan tahun antara China dan Vatikan. Para kritikus, khususnya di sayap kanan Katolik, yakin bahwa Paus Fransiskus telah menyerah pada tuntutan Beijing dan mengkhianati para penganut kepercayaan bawah tanah di China.

Paus Leo harus memutuskan apakah akan terus memperbarui kesepakatan tersebut. Ada beberapa pelanggaran yang tampak di pihak Beijing, dengan beberapa pengangkatan sepihak yang terjadi tanpa persetujuan paus.

Sementara itu, masalah dengan Beijing sempat mencapai puncaknya tepat sebelum konklaf yang memilih Leo, ketika gereja China melanjutkan pemilihan pendahuluan dua uskup, sebuah langkah yang dilakukan sebelum pentahbisan resmi.(*)

Editor: Edward