DUNIA  

Serangan AS ke Iran Dikecam Rusia, Prancis Langsung Aktifkan Dewan Pertahanan

Kecam: Kremlin mengecam keras serangan Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir Iran. (Foto: REUTERS/Shamil Zhumatov)

Jakarta, Mediautama.news – Rusia mengecam keras serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas nuklir Iran. Moskow memperingatkan bahwa tindakan Washington hanya akan semakin memperburuk situasi di Timur Tengah dan mengancam stabilitas global.

Kremlin menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan melanggar hukum internasional.

“Eskalasi saat ini jelas semakin berbahaya dan merusak keamanan regional maupun global,” demikian pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip dari AFP dan dilansir dari CNNIndonesia.com.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan menggelar rapat bersama Dewan Pertahanan Nasional untuk merespons situasi yang memanas pasca serangan AS ke Iran.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyatakan keprihatinannya atas aksi militer yang dilakukan AS. Ia menegaskan bahwa Prancis sama sekali tidak terlibat dalam serangan tersebut.

“Kami mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari segala bentuk eskalasi yang dapat memicu konflik berkepanjangan,” kata Barrot.

Hingga saat ini, Macron belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan tersebut. Namun, pada Sabtu waktu setempat, ia menyampaikan bahwa Prancis bersama sejumlah negara Eropa tengah berupaya meningkatkan dialog dengan Iran.

Sehari sebelumnya, para diplomat tinggi dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Uni Eropa telah menggelar pertemuan di Jenewa dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, guna membahas kelanjutan program nuklir Teheran.

Eropa terus mendesak Teheran melanjutkan jalur diplomatik dengan Amerika Serikat untuk menemukan solusi terkait program nuklir Iran.

“Prancis telah berulang kali menyatakan penentangannya yang sangat tegas terhadap akses Iran ke senjata nuklir,” kata Barrot.

Prancis yakin bahwa penyelesaian yang langgeng dari masalah ini memerlukan solusi yang dinegosiasikan dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.(r)

Editor: Edward