Aksi Protes Berdarah Negara Memanas, 11 Tewas Ditembak Aparat

Gelombang demonstrasi mengguncang Kenya pada Senin (7/7/2025).(Foto: REUTERS/Thomas Mukoya)

Jakarta, Mediautama.news – Gelombang demonstrasi mengguncang Kenya pada Senin (7/7/2025), bertepatan dengan 35 tahun gerakan pro-demokrasi ‘Saba Saba’. Aksi yang awalnya damai berubah menjadi tragedi ketika polisi melepaskan tembakan ke arah massa. Sedikitnya 11 orang tewas dan lebih dari 50 polisi terluka.

Protes terbaru dipicu kemarahan atas kematian Albert Ojwang, blogger dan guru 31 tahun yang tewas dalam tahanan polisi bulan lalu. Kematian ini menjadi simbol kekerasan aparat, memicu gelombang protes yang meluas.

Reuters melaporkan dan dilansir dari CNBC Indonesia, di kawasan Kangemi, Nairobi, polisi menembaki demonstran. Seorang pria terlihat tewas dengan luka tembak terbuka. RS Eagle Nursing Home mencatat dua dari enam korban luka meninggal dunia. Sementara, Kenyatta National Hospital menangani 24 korban.

Polisi Kenya mengonfirmasi 11 korban tewas, tapi tak menjelaskan siapa yang bertanggung jawab. Komisi Nasional HAM Kenya (KNCHR) mencatat kehadiran kelompok tak dikenal bersenjata cambuk dan parang yang beroperasi bersama polisi. Banyak dari mereka tidak berseragam dan menggunakan kendaraan tak bertanda.

Padahal, pengadilan memerintahkan seluruh petugas harus dapat diidentifikasi saat bertugas, menyusul kasus kekerasan serupa tahun lalu.

* Demo Meluas, Kota Lumpuh

Bentrok juga terjadi di Nyeri, Embu, dan Nakuru. Sekolah, toko, dan pusat perbelanjaan ditutup. Polisi menutup akses utama ke pusat Nairobi, sementara demonstran tetap berjalan kaki menuju kota. Gas air mata dan meriam air digunakan untuk membubarkan massa.

Menteri Dalam Negeri Kipchumba Murkomen menyebut aksi itu “disusupi elemen kriminal” dan menegaskan aparat siap menghadapi siapa pun yang mengganggu stabilitas. Sebelumnya, ia bahkan menyebut protes sebagai “terorisme terselubung”.

* Saba Saba & Simbol Perlawanan Baru

Aksi ini mengenang perjuangan rakyat Kenya menuntut sistem multi-partai pada 1990. Kini, semangat itu kembali menyala akibat kematian Ojwang. Dalam aksi 25 Juni lalu, 19 orang tewas. Enam orang, termasuk tiga polisi, telah didakwa atas kasus Ojwang dan mengaku tak bersalah di pengadilan.(r)

Editor: Edward