BNPB Kerahkan Operasi Besar di Sumatra: 303 Korban Tewas, Ratusan Hilang, Ribuan Mengungsi

Pencarian: Tim BPBD bersama TNI, Polri unsur Forkopincam serta relawan saat melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Tapsel yang dilakukan hingga malam hari.(Foto:dok/BPBD Tapsel)

Jakarta, Mediautama.news – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai unsur relawan terus mengintensifkan upaya penanganan darurat atas bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.

Upaya terpadu ini dilakukan sebagai respons cepat terhadap tingginya dampak bencana yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta ribuan warga harus mengungsi.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memimpin langsung rangkaian penanganan di lapangan. Fokus utama diarahkan pada operasi pencarian dan pertolongan korban yang masih hilang, pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi, serta penanganan kesehatan bagi warga terdampak.

Selain itu, pembukaan akses ke wilayah yang terisolasi akibat kerusakan jalan dan jembatan menjadi prioritas, mengingat kondisi tersebut menghambat distribusi logistik dan upaya evakuasi.

BNPB juga mempercepat pengiriman bantuan melalui jalur darat dan udara untuk memastikan kebutuhan logistik, seperti makanan, tenda, selimut, air bersih, serta perlengkapan medis, dapat segera diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.

Pada hari ketiga setelah penetapan status tanggap darurat bencana di Provinsi Sumatra Utara, tercatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih dinyatakan hilang. Dampak terbesar terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

“Sumatra Utara sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Dalam satu hari ini bertambah menjadi 60 korban jiwa berkat operasi pencarian dan pertolongan oleh tim gabungan yang dipimpin oleh Basarnas. Kemudian ada 103 jiwa yang masih hilang,” ungkap Suharyanto, dikutip Minggu (29/11/2025), dilansir dari CNBC Indonesia.

Sementara itu, ribuan warga mengungsi di berbagai titik akibat kondisi permukiman yang rusak dan akses yang terputus. Jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa di Tapanuli Selatan dan Kota Sibolga, serta ratusan hingga ribuan kepala keluarga di Mandailing Natal, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan.

Akses transportasi di wilayah ini banyak mengalami kerusakan. Jalur nasional Sibolga-Padang Sidempuan serta Sibolga-Tarutung mengalami putus total dan tertutup longsor di banyak titik. Beberapa jembatan termasuk Jembatan Pandan dan jembatan pada ruas Sibolga-Manduamas, juga terputus.

Sejumlah jalur kabupaten turut terputus dan belum dapat diperbaiki karena medan yang berat. Di Mandailing Natal, sedikitnya tujuh wilayah terisolir akibat tertutupnya jalur lintas provinsi, sementara beberapa desa hanya bisa dijangkau menggunakan alat berat atau transportasi udara.

Untuk mempercepat penanganan, BNPB dan kementerian/lembaga telah mengerahkan berbagai alutsista, termasuk lima helikopter perbantuan yang ditempatkan di Bandara Silangit untuk distribusi logistik ke Tapanuli Tengah dan wilayah lain yang terisolasi.

“Seperti Sibolga sampai hari ketiga penanganan darurat belum bisa kita tembus lewat udara, tapi sudah bisa kita capai melalui udara untuk pendistribusian logistik,” kata Suharyanto.

Helikopter BNPB, Heli TNI AD Bell 412EPI, MI-17V5 dan helikopter bantuan mitra swasta telah beroperasi aktif mendukung pendistribusian bantuan. Selain itu, pesawat Cessna Caravan juga digunakan untuk pengiriman logistik dan personel.

Alat berat dari berbagai instansi telah dikerahkan untuk membuka akses jalan. Dalam hal logistik, tahap pertama pengiriman ke Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan telah terpenuhi 100 persen, sementara pengiriman ke Mandailing Natal masih terkendala akses darat. Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, LCR, tenda, dan bahan pangan juga telah diterima dan didistribusikan bertahap.

“Untuk transportasi Sibolga-Padang Sidempuan sudah kita lakukan pengerjaan pembukaan hingga sore hari ini dan seterusnya,” jelas Kepala BNPB.

Di Aceh, korban meninggal dunia sebanyak 47 Jiwa, 51 orang hilang, serta 8 orang luka-luka. Jumlah pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga yang tersebar di berbagai wilayah, dengan sebaran tertinggi di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

Sementara di Sumatra Barat, Korban Meninggal Dunia 90 Jiwa, 85 orang hilang dan 10 orang mengalami luka-luka. Kabupaten Agam mencatat jumlah korban tertinggi.

“Korban jiwanya ada 90 yang meninggal dunia, 85 hilang dan 10 luka-luka,” jelas Suharyanto.

Data sementara menunjukkan sebanyak 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi, terutama di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan. Sejumlah jalur provinsi dan nasional terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan, sehingga menyulitkan akses distribusi. Meski demikian, logistik dari Padang Pariaman dan Pesisir Selatan telah tiba, dan delapan titik tambahan dalam proses pengiriman dengan pengawalan kepolisian.(r)

Editor: Edward