BMKG Jelaskan Kemunculan Siklon Tropis Berulang di Indonesia

Prediksi potensi Bibit Siklon Tropis 93S (Foto:dok/BMKG)

Jakarta, Mediautama.news – Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena kemunculan bibit siklon hingga siklon tropis yang terjadi berulang memunculkan pertanyaan publik, apakah kemungkinan kondisi tersebut menjadi pola baru di Indonesia ?.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa pembentukan siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia sejatinya merupakan fenomena periodik yang terjadi setiap tahun.

Menurut Guswanto, siklon tropis itu terjadi di wilayah Indonesia memiliki periodisasi. ” Jadi periodisasi belahan bumi utara itu terjadi di bulan Juni hingga Desember. Kemudian di periodisasi selatan, atau di belahan bumi selatan itu terjadi di Desember sampai dengan April, di mana terdapat satu bulan overlapping yaitu di bulan Desember,” ungkap Guswanto dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring, Jumat (12/12/2025), dikutip dari CNBC Indonesia.

Periode tumpang tindih atau overlapping tersebut, jelasnya, membuat kemunculan siklon tropis di utara dan selatan bisa terjadi bersamaan, seperti yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Seperti saat beberapa minggu yang lalu, ujarnya, itu terjadi di utara ada siklon tropis di selatan juga terjadi. Sehingga itu akan sering terjadi.

Siklon tropis terbentuk, lanjutnya, adalah dari gangguan atmosfer di atas lautan yang memiliki suhu hangat. Kondisi laut ini sangat dipengaruhi oleh posisi gerak semu matahari. Penyebab ini terbentuk yakni dari gangguan atmosfer di atas laut yang hangat.

“Artinya, kalau kita kaitkan dengan gerak semu matahari, saat ini gerak semu matahari akan sampai 22 Desember itu berada di sebelah selatan, titik terjauh. Ketika matahari berada di posisi tersebut, pemanasan di wilayah selatan Indonesia meningkat.

“Dan nanti dia akan bergerak kembali menuju ekuator. Nah di saat itu akan terjadi banyak pemanasan, sehingga suhu permukaan air laut itu bisa menjadi 26,5 derajat atau lebih tinggi,” tambahya lagi.

Suhu laut yang meningkat ini kemudian menyediakan energi yang dibutuhkan untuk pembentukan sistem cuaca ekstrem. “Ini menyediakan energi panas dan kelembaban untuk pertumbuhan awan konvektif yang dapat menyebabkan terjadinya bibit siklon ataupun siklon tropis,” pungkas Guswanto.(r)

Editor: Edward