Jakarta, Mediautama.news – Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang berujung dengan kematian pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei merupakan sebuah kesalahan besar yang berpotensi memperkuat posisi lawan dan membuat Khamenei dikenang sebagai martir.
Hal itu ditegaskan pakar, Harlan Ullman, Ketua kelompok penasihat strategis Killowen Group dan penasihat di Atlantic Council di Washington DC. Tindakan militer tersebut, menurutnya, justru bisa menguatkan semangat dan legitimasi pihak Iran serta sulit memunculkan peluang negosiasi damai.
Ullman berpandangan, bahwa pembunuhan tokoh sentral seperti Khamenei berpotensi membuatnya dikenang dan memicu resistensi baru, bukan mempercepat penyelesaian konflik.
Peristiwa ini terjadi dalam konteks serangan gabungan AS–Israel ke Iran yang dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari 2026, memicu reaksi besar baik di dalam negeri Iran maupun di panggung internasional, termasuk kekhawatiran akan eskalasi konflik regional.
Ullman kepada Al Jazeera dan mengutip CNNIndonesia, Minggu (1/3/2026) mengemukakan, Khamenei kini menjadi martir dan jika Ali Larijani masih hidup, ia adalah orang yang sangat kompeten. Ia adalah ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan menurutnya, ini adalah musuh yang tangguh.
AS, kata Ullman, seharusnya tak mengharapkan kepemimpinan Iran bernegosiasi sebagaimana Venezuela usai penculikan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari lalu.
Usai Maduro diculik pasukan AS, wakilnya naik jadi pelaksana tugas (plt) presiden. Trump lalu mengancam dia dengan skema negosiasi hingga AS bisa menguasai minyak Venezuela dan mengendalikan pemerintahannya.
Dalam hal Iran, Ullman meyakini situasinya berbeda dengan Venezuela. Ia bahkan menilai kepemimpinan Iran bak mati satu, tumbuh seribu.
“Saya tak yakin karena kita telah membunuh seluruh kepemimpinan Iran, itu akan membuat mereka lebih mudah diajak bernegosiasi. Saya pikir kita sudah memberdayakan Larijani dan itu bisa kembali menghantui kita,” katanya.
Kudeta, lanjut Ullman, baru bisa berhasil jika mereka yang sukses menyingkirkan semua pemimpin.
“Dan saya rasa kita belum berhasil menyingkirkan semua pemimpin,” imbuh dia.
Khamenei tewas dalam serangan brutal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Pebruari 2026.
Media Israel Channel 12 melaporkan, bahwa Israel setelah berkoordinasi dengan AS untuk menjatuhkan 30 bom di kompleks kediaman Khamenei.
Pemimipin tertinggi Iran itu dilaporkan berada di ruang bawah tanah di lokasi tersebut. Menurut berbagai laporan, dia tewas bersama anak perempuannya, menantu, cucu, Menteri Pertahanan, hingga Komandan Garda Revolusi Iran.
Serangan AS-Israel ke Iran juga menyebabkan 202 orang tewas dan 747 lainnya mengalami luka-luka.(r)
Editor: Edward






