Jakarta, Mediautama.news – Korea Selatan meluncurkan langkah penghematan energi nasional, termasuk pembatasan mobil dinas dan pengurangan BBM, sebagai antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, Selasa (24/3/2026), menyerukan penghematan energi secara nasional. Salah satu langkah utama adalah mengurangi penggunaan kendaraan penumpang di lembaga publik sebagai bagian dari efisiensi energi.
“Yang terpenting bukanlah penghematan keuangan pemerintah, tetapi penyaluran dana secara cepat dan efektif ke tempat yang paling dibutuhkan,” ujar Lee dalam rapat kabinet, dikutip Reuters dan melansir CNBC Indonesia, Rabu (25/3/2026).
Selanjutnya, Menteri Energi, Kim Sung-whan menambahkan, bahwa pembatasan kendaraan di sektor swasta saat ini bersifat sukarela, namun dapat diperketat jika status kewaspadaan energi meningkat.
Selain itu, masyarakat didorong menerapkan 12 langkah penghematan energi, termasuk mandi lebih singkat, mengisi daya perangkat elektronik dan kendaraan listrik pada siang hari, serta membatasi penggunaan alat rumah tangga seperti mesin cuci dan penyedot debu hanya di akhir pekan.
Pemerintah juga meminta 50 perusahaan pengguna minyak terbesar untuk mengurangi konsumsi energi, serta mengatur jam perjalanan kerja guna menekan penggunaan BBM. Di sisi pasokan, optimasi bauran energi nasional menjadi prioritas, dengan mengoperasikan kembali lima reaktor nuklir mulai Mei, pelonggaran pembatasan pembangkit listrik tenaga batu bara, dan percepatan pengembangan energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam cair (LNG).
Kebijakan ini diperkirakan dapat menghemat hingga 14.000 ton LNG per hari, atau sekitar 20% dari rata-rata konsumsi harian Korea Selatan sebesar 69.000 ton. Dari sektor industri, grup HD Hyundai juga menerapkan langkah serupa, termasuk pengurangan penggunaan kendaraan, efisiensi listrik, dan pengurangan plastik.
Tekanan terhadap pasokan energi global meningkat akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, yang mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Korea Selatan sendiri mengimpor sekitar 70% minyak mentahnya melalui jalur ini. Meski memiliki cadangan sekitar 190 juta barel, para analis menilai cadangan tersebut berpotensi tidak mencukupi jangka panjang karena konsumsi harian mencapai 2,9 juta barel.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan anggaran tambahan sebesar 25 triliun won (sekitar Rp295 triliun) untuk stimulus ekonomi, bantuan langsung kepada masyarakat, dan dukungan dunia usaha. Selain itu, Seoul telah mengamankan komitmen pasokan minyak sebanyak 24 juta barel dari Uni Emirat Arab (UEA), meski jadwal pengirimannya belum dipastikan.(r)
Editor: AR Manik






