DUNIA  

AS Isyaratkan Perang Kembali dengan Iran, Kesepakatan Damai Belum Jelas

Menteri Perang AS Pete Hegseth (Foto:REUTERS/Kylie Cooper via CNNIndonesia)

Jakarta, Mediautama.news – Amerika Serikat membuka peluang melanjutkan konflik dengan Iran di tengah belum pastinya kesepakatan damai dan negosiasi nuklir kedua negara. Washington menegaskan siap menghadapi perang kembali jika diperlukan.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dikutip AFP dan melansir CNNIndonesia menyatakan, militer AS memiliki kemampuan dan persediaan amunisi yang cukup untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran maupun di kawasan lain.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pertahanan di Asia, Sabtu (30/5), dan diperkuat oleh United States Central Command yang menyebut pasukan AS tetap siaga di seluruh Timur Tengah.

Sebelumnya, AS dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari serta melanjutkan perundingan terkait program nuklir Teheran. Namun, kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Presiden AS, Donald Trump.

Trump kembali menegaskan Iran harus menghentikan ambisi memiliki senjata nuklir. Ia juga meminta jalur pelayaran di Selat Hormuz dibuka tanpa hambatan serta seluruh ranjau laut dimusnahkan.

Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, pertemuan Trump dengan para penasihatnya di Gedung Putih usai negosiasi terbaru berakhir tanpa keputusan final. Pemerintah AS tetap berfokus memastikan Iran tidak mampu mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran terus menolak tuntutan pelucutan program nuklir dan menegaskan aktivitas nuklirnya bertujuan damai untuk kepentingan sipil.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan perundingan terakhir lebih difokuskan pada upaya mengakhiri konflik, sementara isu nuklir akan dibahas setelah situasi benar-benar kondusif.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Teheran tidak akan mengambil langkah lanjutan sebelum mendapat tindakan nyata dari pihak lawan. Ia menilai tekanan terhadap Iran lebih banyak diperoleh melalui kekuatan militer dibandingkan jalur diplomasi.(r)

Editor: Edward