DUNIA  

Pewaris Kekayaan Rp90 Triliun Tinggalkan Kehidupan Mewah, Memilih Hidup Sebagai Biksu

Ven Ajahn Siripanyo (Foto:Sc Youtube Hindustan Times)

Jakarta, Mediautama.news – Putra tunggal konglomerat Malaysia, Ven Ajahn Siripanyo, menjadi sorotan setelah memilih meninggalkan kehidupan mewah dan potensi warisan keluarga bernilai sekitar Rp90 triliun untuk menjalani kehidupan sebagai biksu Buddha.

Mengutip laporan South China Morning Post (SCMP) melalui Economic Times dan melansir CNBC Indonesia, Ven Ajahn Siripanyo merupakan putra dari mendiang Ananda Krishnan, salah satu orang terkaya di Malaysia yang memiliki kerajaan bisnis di sektor telekomunikasi, media, dan energi.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Siripanyo berada di posisi terdepan untuk mewarisi bisnis keluarga tersebut.
Namun, ia memilih jalan hidup yang berbeda. Sejak usia muda, Siripanyo memutuskan menjadi biksu dalam tradisi Theravada dan melepaskan berbagai hak material yang dimilikinya.

Ia kini menjalani kehidupan sederhana sebagai biksu hutan atau Ajahn, dengan mengandalkan sedekah makanan dari umat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menurut laporan tersebut, keputusan Siripanyo mendapat penghormatan dari keluarganya. Pilihan hidupnya disebut sebagai keputusan pribadi yang sepenuhnya dihormati oleh keluarga besar Ananda Krishnan.

Meski meninggalkan kehidupan duniawi, Siripanyo dikabarkan tetap menjaga hubungan baik dengan keluarganya dan sesekali mengunjungi sang ayah dengan tetap memegang teguh prinsip-prinsip ajaran Buddha yang dianutnya.

Kisah hidup Ajahn Siripanyo kerap dibandingkan dengan tokoh Julian Mantle dalam novel The Monk Who Sold His Ferrari karya Robin Sharma. Bedanya, jika kisah dalam novel tersebut merupakan fiksi, perjalanan hidup Siripanyo adalah kenyataan.

Pilihan Siripanyo menjadi contoh langka di tengah dunia modern yang identik dengan pencarian kekayaan dan status sosial. Ia memilih meninggalkan takhta bisnis keluarga demi menjalani kehidupan spiritual yang diyakininya membawa ketenangan dan makna hidup yang lebih dalam.(r)

Editor: Edward