Jakarta, Mediautama.news – Korea Utara menyatakan menghormati terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Melalui pernyataan resmi, pemerintah Korea Utara juga mengecam Amerika Serikat dan Israel yang dinilai telah merusak stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
“Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran dalam menentukan pemimpin tertinggi mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), melansir CNBC Indonesia.
Dalam pernyataan tersebut, Korea Utara menilai tindakan Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan fondasi perdamaian dan keamanan regional serta memperburuk ketidakstabilan global. Juru bicara itu juga menuduh kedua negara telah melanggar sistem politik dan integritas teritorial Iran, bahkan berupaya menggulingkan sistem sosial negara tersebut.
“Tindakan tersebut pantas mendapat kecaman dan penolakan dari masyarakat internasional karena tidak dapat ditoleransi,” ujarnya.
Selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat diketahui memimpin berbagai upaya untuk menghentikan program nuklir Korea Utara. Namun berbagai langkah seperti sanksi, tekanan diplomatik, hingga pertemuan tingkat tinggi belum memberikan hasil signifikan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga disebut berupaya menghidupkan kembali pembicaraan dengan Pyongyang, termasuk kemungkinan pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Setelah sempat mengabaikan tawaran tersebut, Kim Jong Un baru-baru ini menyatakan kedua negara dapat menjalin hubungan yang lebih baik jika Washington bersedia menerima status Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir.
Sementara itu, media pemerintah Korea Utara juga melaporkan bahwa Kim Jong Un baru saja mengawasi uji coba rudal jelajah strategis dari kapal perusak angkatan laut Choe Hyon.
Uji coba tersebut merupakan bagian dari upaya Korea Utara memperkuat kemampuan militernya, termasuk rencana mempersenjatai angkatan laut dengan senjata nuklir.
Kim Jong Un dalam arahannya menekankan pentingnya memperluas kemampuan pencegahan perang nuklir yang kuat dan andal, sebagaimana dilaporkan KCNA.(r)
Editor: Edward






