EKBIS  

Barang Murah China Serbu Pasar RI, Tekor Dagang Makin Dalam

Kapal Kontainer (Foto:ilustrasi/pixabay)

Jakarta, Mediautama.news – Defisit neraca perdagangan antara Indonesia dan China terus memburuk hingga April 2025. Kondisi ini ditandai dengan semakin lebarnya selisih antara ekspor dan impor sepanjang Januari–April 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode Januari–April 2025, defisit perdagangan Indonesia dengan China mencapai US$ 6,28 miliar, meningkat tajam dari defisit US$ 3,02 miliar pada Januari–April 2024.

Memburuknya neraca perdagangan ini dipicu oleh lonjakan impor barang dari China yang tumbuh pesat. Total impor dari China pada empat bulan pertama 2025 tercatat sebesar US$ 25,77 miliar, naik 22,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekspor Indonesia ke China hanya mencapai US$ 18,87 miliar, tumbuh tipis 7% secara tahunan.

Secara bulanan, pada April 2025 saja, impor barang dari China tercatat sebesar US$ 7,07 miliar—naik 12,18% dibandingkan Maret 2025. Sebaliknya, ekspor Indonesia ke China pada bulan yang sama justru turun 7,03% menjadi US$ 4,83 miliar.

“Jadi impor dari Tiongkok pada April 2025 naik 12,18% dibanding Maret 2025,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/6/2025), dikutip dari CNBC Indonesia.

Melebarnya defisit neraca perdagangan Indonesia dengan China itu dipicu oleh komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya yang minus senilai US$ 5,72 miliar. mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya US$ 5,20 miliar, dan kendaraan serta bagiannya US$ 1,38 miliar.

“Kalau komoditas ekspor tujuan Tiongkok yang meningkat (Januari-April 2025) besi dan baja 11,92%, nikel dan barang daripadanya naik 38,82%, kemudian lemak dan minyak hewan atau nabati meningkat 46,38%,” tutur Pudji.(*)

Editor: Edward