Jakarta, Mediautama.news – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras bahwa penghentian bantuan luar negeri oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berisiko membalikkan capaian puluhan tahun dalam upaya global menanggulangi HIV/AIDS.
Dalam laporan tahunannya tentang HIV/AIDS, seperti dilansir Al Jazeera dan Associated Press dan dikutip dari detiknews, Sabtu (12/7/2025), PBB menyebut penarikan tiba-tiba dana dari program President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR) dalam enam bulan terakhir telah menimbulkan “guncangan sistemik” di berbagai negara penerima.
Program PEPFAR sendiri pertama kali diluncurkan pada tahun 2003 oleh Presiden George W. Bush. Hingga kini, PEPFAR dikenal sebagai salah satu komitmen terbesar dari satu negara terhadap penanggulangan penyakit tunggal. Program ini bahkan dijuluki “penyelamat” oleh UNAIDS karena perannya dalam menyelamatkan jutaan jiwa di negara-negara dengan prevalensi HIV yang tinggi.
Namun kini, PBB memperingatkan, jika pendanaan tersebut tidak segera digantikan atau dipulihkan, dunia bisa menghadapi dampak serius, hingga enam juta infeksi HIV tambahan dan empat juta kematian terkait AIDS pada tahun 2029.
Laporan Global AIDS 2025 juga menyoroti bahwa selama bertahun-tahun, investasi yang dipimpin oleh AS lewat program-program penanggulangan HIV/AIDS telah berhasil menurunkan angka kematian akibat AIDS ke tingkat terendah dalam lebih dari tiga dekade. Program ini juga menyediakan akses obat-obatan penting bagi jutaan masyarakat rentan di berbagai belahan dunia.
Kini, PBB mengingatkan bahwa komitmen global harus dijaga dan tidak boleh goyah—agar kemajuan yang telah dicapai tidak berujung pada krisis baru.
“Program-program HIV di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah telah terguncang oleh gangguan keuangan besar yang tiba-tiba mengancam akan membalikkan kemajuan yang telah dicapai selama bertahun-tahun dalam penanggulangan HIV,” demikian bunyi laporan tahunan UNAIDS.
“Perang dan konflik, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, pergeseran geopolitik, dan guncangan perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam penanggulangan HIV global memicu ketidakstabilan dan membebani kerja sama multilateral,” sebut laporan tersebut.
Menurut laporan tahunan UNAIDS, orang-orang yang tertular HIV dan mereka yang meninggal akibat penyebab terkait AIDS berada pada tingkat terendah dalam “lebih dari 30 tahun”. Namun, pada akhir tahun 2024, penurunan jumlah itu “tidak cukup” untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman publik pada tahun 2030.(r)
Editor: Edward






