Jakarta, Mediautama.news – Perusahaan mobil listrik Tesla tengah menghadapi tekanan serius setelah puluhan ribu unit kendaraan produksinya menumpuk akibat penjualan yang melambat.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, perusahaan mencatat produksi sekitar 50.000 unit lebih banyak dibandingkan jumlah kendaraan yang berhasil terjual. Selisih tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Tesla.
Dalam kondisi normal, produksi dan penjualan perusahaan biasanya berjalan seimbang. Namun, laporan yang dikutip dari Business Insider, melansir CNBC Indonesia, menunjukkan kesenjangan kali ini melampaui rekor sebelumnya pada awal 2024 yang mencapai 46.500 unit.
Penurunan penjualan ini dipengaruhi kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang menghentikan insentif kendaraan listrik. Presiden Donald Trump diketahui mengakhiri kredit pajak sebesar US$7.500 untuk pembelian mobil listrik baru, yang sebelumnya menjadi pendorong utama permintaan pasar.
Dampaknya, penjualan mobil listrik di AS dilaporkan merosot hingga 28 persen pada kuartal pertama 2026. Kondisi ini juga dirasakan produsen lain seperti Ford, Stellantis, dan Honda yang mulai menunda investasi serta peluncuran model kendaraan listrik baru.
Menghadapi situasi tersebut, CEO Tesla Elon Musk mulai mengalihkan fokus ke lini bisnis baru, yakni layanan taksi robot berbasis kendaraan otonom. Tesla menargetkan produksi armada “Cybercab” dimulai tahun ini sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Selain itu, Tesla juga mengembangkan robot humanoid bernama Optimus yang mulai diproduksi pada 2026. Musk meyakini inovasi ini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional perusahaan di masa depan.
Meski demikian, Tesla masih menghadapi persaingan ketat di sektor kendaraan otonom. Perusahaan ini tertinggal dari Waymo, anak usaha Alphabet Inc., yang telah lebih dulu mengoperasikan layanan taksi robot di sejumlah kota seperti Austin dan San Francisco.(r)
Editor: Edward






