Jakarta, Mediautama.news – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan Kamis (23/4/2026). Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar AS sebagai mata uang aman (safe haven).
Berdasarkan data perdagangan pukul 09.05 WIB, rupiah terkoreksi 74 poin atau turun 0,43 persen ke posisi Rp17.255 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi bersamaan dengan tekanan yang juga dialami sebagian besar mata uang di kawasan Asia. Dolar Singapura turun 0,02%, Ringgit Malaysia melemah 0,09%, Peso Filipina turun 0,27%, Rupee India terkoreksi 0,30%, Baht Thailand turun 0,08%, dan Dolar Taiwan melemah 0,02%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang lain justru mencatatkan penguatan, antara lain Yen Jepang naik 0,03%, Dolar Hong Kong menguat 0,02%, Won Korea Selatan naik 0,01%, serta Yuan China yang bertambah 0,05%.
Melansir Bisnis.com, analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang didorong meningkatnya eskalasi konflik serta ketidakpastian proses perdamaian di Timur Tengah. Kondisi ini membuat investor cenderung beralih ke aset safe haven.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan harga minyak mentah global yang memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan beban impor energi Indonesia. Situasi tersebut dinilai mempersempit ruang penguatan mata uang domestik.
Sementara itu, keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan belum mampu meredam tekanan eksternal. Sikap wait and see pelaku pasar juga membuat pergerakan rupiah cenderung terbatas.
“Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp17.150 hingga Rp17.250 per dolar AS,” ujar Lukman melansir Bisns.com.
Pelaku pasar disarankan untuk terus mencermati perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan moneter, yang berpotensi menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.(r)
Editor: Edward






