Medan, Mediautama.news – Perilaku anak yang kerap dianggap nakal, manja, keras kepala, atau sulit fokus ternyata tidak selalu berkaitan dengan masalah disiplin. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda Gangguan Pengolahan Sensori atau Sensory Processing Disorder (SPD), yakni gangguan ketika otak kesulitan menerima, mengolah, dan merespons rangsangan sensori secara tepat.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kondisi tersebut, Parents Support Group Medan bersama Divisi Pengembangan SDM Yayasan Budi Center Indonesia menggelar seminar bertajuk “Problem Pengolahan Sensory: Problem Perilaku yang Ditimbulkan dan Solusinya” di Selecta Ballroom Hotel Selecta Medan, Sabtu (23/5/2026).
Seminar yang dipanitiai Ivonne Angela Sinaga SE itu, menghadirkan narasumber Tri Budi Santoso PhD OT, terapis okupasi anak sekaligus konsultan anak berkebutuhan khusus.
Dalam pemaparannya, Tri Budi menjelaskan bahwa gangguan pengolahan sensori dapat memengaruhi perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak dengan kondisi ini dapat menunjukkan reaksi seperti mudah marah, menolak disentuh, sensitif terhadap suara atau cahaya, terlalu aktif, sulit berkonsentrasi, hingga sangat pemilih terhadap makanan.
Menurutnya, kondisi tersebut sering kali disalahartikan sebagai masalah perilaku atau disiplin, padahal berkaitan erat dengan proses neurologis dan perkembangan otak anak.
Ia juga menekankan pentingnya stimulasi sensori sejak dini karena masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan koneksi saraf yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar, regulasi emosi, dan interaksi sosial anak di masa depan.
Peserta seminar turut diperkenalkan dengan berbagai jenis gangguan sensori, mulai dari hipersensitivitas hingga kecenderungan anak mencari rangsangan sensori secara berlebihan. Selain itu, dipaparkan pula sejumlah strategi penanganan, seperti pengaturan lingkungan, terapi tekanan dalam (deep pressure therapy), hingga pendekatan intervensi berbasis bukti seperti Ayres Sensory Integration dan DIR/Floortime.
“Setiap anak memiliki profil sensori yang unik. Memahami cara kerja otak anak membantu kita tidak hanya melihat perilakunya, tetapi juga memahami kebutuhan di balik perilaku tersebut,” ujar Tri Budi.
Melalui seminar ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya mengenali gangguan pengolahan sensori sejak dini, sehingga anak tidak lagi diberi label negatif, melainkan memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangannya.(Md1)
Editor: AR Manik






