Jakarta, Mediautama.news – Di Swiss, perundingan Amerika Serikat dan Iran kini terancam kandas. Minggu (21/6/2026), delegasi Iran meninggalkan lokasi pertemuan setelah berjumpa penengah Qatar, tak lama sesudah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Teheran dengan kekuatan lebih dahsyat.
Kantor berita IRNA melaporkan, pesan ancaman Trump muncul tepat saat pembicaraan dimulai. Namun menurut diplomat yang tak ingin disebutkan namanya kepada AFP, melansir CNNIndonesia, Iran belum menghentikan keterlibatannya.
Lewat media sosial, Trump menuntut Teheran mengendalikan sekutunya Hizbullah di Lebanon yang masih bertempur melawan Israel, jika menolak, AS akan melancarkan serangan dahsyat.
Menanggapi pernyataan Trump, kepala perunding Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dengan tegas menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons.
Ia juga mengingatkan agar pihak Amerika lebih berhati‑hati. “Angkatan bersenjata kami siap menanggapi dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak,” tegasnya.
Ketegangan memuncak empat hari saja setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai secara jarak jauh. Perjanjian itu berisi penghentian pertempuran di semua lokasi konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, Iran kembali menutup jalur penting itu sebagai tanggapan atas serangan Israel ke Lebanon. Nasib pembicaraan masih belum terang, perdamaian kini berada di ujung tanduk.(r)
Editor: Edward






