MediaUtama | Medan – Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Sumut menyatakan ada puluhan orang napi maupun petugas di Lapas dan Rutan terkonfirmasi Covid19.
Hal ini disampaikan Kadiv Pas Kanwil Kemenkumham Sumut, Pujo Harinto kepada wartawan, Selasa (28/10/2020).
Bahkan sebelumnya, narapidana di Lapas Kelas I Medan, Tamin Sukardi (77), yang terkonfirmasi Covid-19 bahkan meninggal dunia.
Terpidana dalam perkara korupsi penjualan aset negara dan penyuapan hakim PN Medan ini menghembuskan napas terakhir di RSU Royal Prima Medan, Sabtu (24/10/20) kemarin.
Dimana Tamin sempat menjalani perawatan selama 21 hari di rumah sakit karena penyakit bawaan.
“Awalnya dia dirawat di RSU Bandung, sebelum ke RSU Royal Prima. Dari laporan Pak Kalapas, pada saat keluar memang dia (Tamin Sukardi) banyak menderita penyakit bawaan, karena memang usianya sudah lanjut terus ada diabetes, kolesterol, dan jantung, biasalah penyakit tua yang datang itu. Dia lakukan rapid test pada saat keluar, dari hasil tes sementara yang ada di dalam, dia dinyatakan nonreaktif, sehingga kemungkinan dia tertular dari dalam itu sangat kecil,” jelas Pujo.
Begitupun, Pujo tidak memungkiri kemungkinan Tamin tertular di Lapas Medan. Dia mengakui petugas terus keluar masuk ke penjara itu.
Sejumlah pegawai lapas dan rutan di Sumut juga diketahui terkonfirmasi Covid-19.
Rinciannya, seorang pegawai penjara di Lubuk Pakam, Deli Serdang; seorang di Rutan Labuhan Deli, 6 di Lapas Teluk Dalam, Nias Selatan; dan 3 orang di Lapas Medan.
Sementara warga binaan yang terkonfirmasi Covid-19 berjumlah puluhan orang. Di Lapas Gunung Sitoli, terdapat 9 narapidana yang positif mengidap virus corona.
“Ada 9 dari 97 (yang swab), sementara masih ada 100 lagi yang belum di swab,” jelasnya.
Di Teluk Dalam, 27 warga binaan terkonfirmasi Covid-19 , namun hanya seorang yang belum dinyatakan sembuh. Mereka diisolasi di lapas itu karena keterbatasan rumah sakit di Teluk Dalam.
Sementara di Lapas Medan, seorang warga binaan yang terkonfirmasi Covid-19 atas nama Tamin Sukardi. Namun dia telah meninggal dunia.
Menurut Pujo, tertularnya warga binaan tidak terlepas dari kondisi lapas yang kelebihan warga binaan. Mereka terpaksa melakukan langkah antisipasi dengan cara melakukan desinfektan di lapas dan rutan dua kali seminggu.
Namun, warga binaan dipastikan tidak dapat menjaga jarak. Mereka berdesakan karena jumlahnya melampaui kapasitas.
[PUL]






