Investor Prancis Lirik Proyek Pembangkit Listrik Nuklir di Indonesia

Keterangan Pers: Hashim S. Djojohadikusumo dan Ketua Umum KADIN, Anindya Novian Bakrie saat memberikan keterangan pers di Paris, Prancis, Selasa (15/7/2025).(Foto:CNBC Indonesia/Seft Oktarianisa)

Jakarta, Mediautama.news – Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan ketertarikan sejumlah perusahaan Prancis untuk berpartisipasi dalam program kelistrikan di Indonesia, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri Breakfast Forum Kadin dan MEDEF (Mouvement des Entreprises de France) di Paris, Selasa (15/7/2025), di sela kunjungan Presiden RI ke perayaan Bastille Day atas undangan Presiden Emmanuel Macron, dilansir dari CNBC Indonesia.

“Banyak perusahaan Eropa, khususnya Prancis, ingin berpartisipasi dalam program kelistrikan. Seperti kalian tahu, industri nuklir Prancis sangat kuat. Sekitar 80 persen listrik mereka berasal dari tenaga nuklir. Jadi, mungkin saja perusahaan Prancis ingin ikut dalam program tersebut,” ujar Hashim.

Hashim menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas awal 500 megawatt (MW) di Indonesia. Dalam jangka panjang, kapasitas tersebut ditargetkan meningkat hingga 10 gigawatt (GW).

Terkait lokasi proyek, Hashim mengatakan belum ada penetapan pasti, namun sebagian besar kemungkinan akan dibangun di wilayah Indonesia bagian barat. Sementara untuk wilayah timur, akan digunakan teknologi small modular reactors (SMR).

“Lokasinya memang belum ditentukan, tetapi sebagian besar akan berada di Indonesia bagian barat, sesuai kebutuhan. Namun di timur juga akan dibutuhkan,” ujarnya.

SMR merupakan reaktor modular berukuran kecil dengan kapasitas di bawah 300 MW, sebagaimana dijelaskan dalam dokumen Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Dan mungkin juga akan terapung,” tambahnya. “Kapal atau kapal tongkang, itu untuk Indonesia bagian timur.”

Menurutnya pula unsur keselamatan juga sudah bukan masalah. Dikatakannya tenaga nuklir sebenarnya adalah yang paling aman di dunia.

Ia mengacu pada tiga kecelakaan nuklir di dunia. Menurutnya semuanya terjadi karena kesalahan tenaga manusia sehingga kemungkinan penggunaan artificial intelligence (AI) menjadi penting.

“Dalam 40-50 tahun hanya tiga masalah. Yang satu itu di Chernobyl, yang satu lagi di Three Mile Island, yang terakhir di Fukushima,” katanya.

“Dan ternyata setelah dikaji, itu semua human error… Itu semua kesalahan tenaga manusia. Jadi salah satu yang bisa kita pakai adalah AI,” tambahnya lagi.

“Nanti tenaga nuklir akan dikendalikan dengan komputer dan sebagainya supaya tidak ada human error lagi. Nanti tenaga manusia hanya pelengkap saja.”

Merujuk RUPTL 2025-2034, dalam 10 tahun ke depan pemerintah RI berencana membangun 69,5 gigawatt pembangkit baru. Merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sekitar 76% adalah energi baru terbarukan (EBT).(r)

Editor: Edward