DUNIA  

Trump Ucapkan Peringatan Keras, Klaim Nuklir AS Mampu Ledakkan Bumi 150 Kali

Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Brian Snyder)

Jakarta, Mediautama.news – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan ancamannya terkait rencana pengujian senjata nuklir oleh Washington.

Ia mengklaim bahwa gudang senjata nuklir milik AS memiliki kekuatan luar biasa, bahkan mampu meledakkan dunia hingga 150 kali.

“Kami memiliki lebih banyak senjata nuklir daripada negara mana pun. Dan saya pikir kita harus melakukan sesuatu tentang denuklirisasi,” ujar Trump dalam wawancara dengan CBS yang disiarkan Minggu (2/11/2025), dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa (4/11/2025).

AS, tegas Trump, memiliki cukup senjata nuklir untuk meledakkan dunia 150 kali. Rusia punya banyak, dan China juga akan punya banyak.

Saat ditanya alasan AS perlu kembali menguji senjata nuklir, Trump menjawab, Karena Anda harus melihat bagaimana cara kerjanya. Padahal, AS telah menerapkan moratorium uji coba nuklir selama lebih dari tiga dekade sesuai mandat Kongres.

“Saya katakan bahwa kita akan menguji senjata nuklir seperti negara lain. Kita adalah satu-satunya negara yang tidak menguji, dan saya tidak ingin menjadi satu-satunya negara yang tidak melakukannya,” tambah Trump, menyiratkan bahwa Rusia dan China diam-diam melakukan pengujian meski tanpa bukti jelas.

Uji coba nuklir berskala penuh terakhir AS dilakukan pada tahun 1992. Sementara itu, uji coba nuklir berskala penuh terakhir yang dikonfirmasi oleh Rusia terjadi pada tahun 1990 dan China pada tahun 1996.

Rencana Trump untuk melanjutkan pengujian ini didukung oleh Wakil Presiden AS J.D. Vance dan beberapa anggota parlemen Republik lainnya. Mereka berpendapat bahwa pengujian non-detonasi diperlukan untuk memastikan keandalan gudang senjata nuklir AS yang sudah menua.

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengklarifikasi bahwa pengujian yang diperintahkan Trump tidak akan melibatkan ledakan nuklir yang sesungguhnya.

“Ini adalah apa yang kami sebut pengujian non-kritis (non-critical tests),” ujar Wright kepada Fox News, menggambarkannya sebagai bagian dari program modernisasi yang lebih luas.

“Tidak perlu khawatir tentang (awan jamur nuklir),” tambahnya, merujuk pada potensi pengujian atmosfer atau bawah tanah.

Pengujian non-detonasi adalah pengujian yang melibatkan semua bagian senjata nuklir untuk memastikan mereka berfungsi dengan benar. Namun, uji ini tidak ditujukan untuk memicu reaksi nuklir yang sesungguhnya.

Walau begitu, langkah AS ini memicu reaksi dari negara-negara nuklir lainnya. China melalui Kementerian Luar Negerinya mendesak AS untuk menghormati kewajibannya di bawah Traktat Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) dan mempertahankan moratorium global pada pengujian nuklir.

Di sisi yang lain, Rusia telah menegaskan melalui juru bicara Kremlin Dmitry Peskov bahwa uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik dan drone bawah laut Poseidon yang baru-baru ini dilakukan tidak melibatkan pengujian nuklir. Presiden Vladimir Putin menyatakan Rusia hanya akan “bertindak sewajarnya” jika kekuatan nuklir lain melanjutkan pengujian.(r)

Editor: Edward