EKBIS  

Barista Starbucks Serentak Mogok Kerja, Ini Tuntutan yang Mereka Suarakan

Mogok Kerja: Aksi mogok kerja dilakukan Barista Starbucks pada salah lokasi gerai Starbucks Reserve Roastery yang telah tutup di Seattle, Washington, AS, Kamis (13/11/2025).(Foto: REUTERS/David Ryder)

Jakarta, Mediautama.news – Ribuan barista Starbucks di Amerika Serikat kembali melakukan aksi mogok besar-besaran. Serikat pekerja Workers United mengumumkan perluasan aksi ke puluhan kota baru, menjadikannya salah satu gelombang demonstrasi terbesar dalam sejarah perusahaan kopi global tersebut.

Workers United menyebutkan, bahwa aksi mogok kini berlangsung di 95 gerai yang tersebar di 65 kota, melibatkan sekitar 2.000 barista. Aksi serupa juga digelar di depan pusat distribusi Starbucks di York, Pennsylvania, meskipun pihak perusahaan menegaskan bahwa operasional tetap berjalan normal.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Workers United menyampaikan tuntutan proposal baru untuk menyelesaikan kontrak, termasuk peningkatan jam kerja, kenaikan upah, dan penyelesaian ratusan tuduhan praktik ketenagakerjaan tidak adil yang ditujukan kepada Starbucks.

Mayoritas gerai yang terdampak aksi mogok, menurut serikat pekerja, terpaksa tutup pada hari pertama karena kekurangan staf. Dampak mogok disebut meluas ke sekitar 50 gerai dalam beberapa hari berikutnya. Starbucks membantah dampak signifikan, menyebut kurang dari 1% gerai yang terganggu dan sebagian besar dapat segera dibuka kembali.

Serikat pekerja mulai mengorganisasi diri di Starbucks pada 2021 dan mengatakan kini mewakili lebih dari 11.000 pekerja di lebih dari 550 gerai. Pekan ini, disebutkan bahwa lima gerai non-serikat mengajukan pemungutan suara untuk bergabung, termasuk lokasi di Baltimore, Maryland, Harrisonburg, Virginia, dan Little Rock, Arkansas. Hingga saat ini, kedua pihak belum melanjutkan perundingan setelah pembicaraan sebelumnya gagal akhir tahun lalu.

Starbucks dan serikat memasuki proses mediasi pada Februari, dan ratusan perwakilan barista menolak paket ekonomi yang diajukan Starbucks pada April. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan mencapai kesepakatan dan menyatakan siap kembali bernegosiasi.

Aksi mogok ini berpotensi berdampak pada bisnis Starbucks di musim liburan yang biasanya menjadi pendorong penjualan dan menjadi kunci pemulihan kinerja di AS di bawah kepemimpinan Niccol. Starbucks baru-baru ini mengakhiri penurunan penjualan selama hampir dua tahun pada kuartal terakhir yang dilaporkan. Aksi mogok sebelumnya hanya memengaruhi kurang dari 1% gerai, menurut perusahaan.

Starbucks menegaskan bahwa mereka tetap siap melayani pelanggan di seluruh gerainya pada musim liburan ini.

“Seperti yang kami sampaikan, 99% dari 17.000 lokasi kami di AS tetap buka dan melayani pelanggan, termasuk banyak lokasi yang disebut serikat akan mogok namun tidak pernah tutup atau sudah dibuka kembali,” kata juru bicara Starbucks, Jaci Anderson, dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (23/11/2025).(r)

Editor: Edward