Jakarta, Mediautama.news – Dalam upaya menjaga kepentingan nasional dan memastikan keberlanjutan pembangunan ekonomi, Pemerintah Indonesia terus memperkuat dan memperdalam hubungan bilateral dengan berbagai negara mitra strategis melalui pendekatan diplomasi aktif.
Salah satu bentuk kerja sama strategis yang bersifat komprehensif dan berkesinambungan dijalin Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok atau China.
Kemitraan kedua negara mencakup berbagai sektor penting, mulai dari perdagangan, investasi, hingga pengembangan industri, yang dinilai memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebagaimana diketahui, China hingga saat ini menjadi mitra dagang utama Indonesia. Nilai perdagangan antara kedua negara terus menunjukkan tren positif dan pada tahun 2024 tercatat mencapai sebesar US$135,2 miliar, mencerminkan eratnya hubungan ekonomi serta besarnya potensi kerja sama yang terus dikembangkan ke depan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, kemitraan Indonesia-China juga terus diperkuat melalui peran aktif berbagai pemangku kepentingan, salah satunya China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI).
Selama dua dekade terakhir, CCCI telah berkembang menjadi jembatan komunikasi antara Pemerintah dan dunia usaha, sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Dalam keterangan resminya Airlangga menjelaskan, dengan populasi 1,4 miliar jiwa, China berada di urutan kedua di dunia, sementara Indonesia memiliki 285 juta jiwa berada di urutan keempat, keduanya merupakan anggota G20, dan China adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua dengan PDB US$17,8 triliun dan Indonesia memiliki PDB US$1,4 triliun.
“Jadi, ini benar-benar merupakan tonggak penting bahwa kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara terbuka. Ini adalah pasar besar yang menawarkan peluang bagi kedua perusahaan dan kedua negara,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya dikutip Sabtu (10/1/2026), dilansir dari CNBC Indonesia.
Selain menjadi mitra dagang utama. kerja sama kedua negara juga terus menunjukkan kemajuan strategis melalui inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP). Inisiatif TCTP tersebut merupakan kerangka kerja sama strategis untuk memperkuat kolaborasi industri, memfasilitasi investasi, dan mengintegrasikan rantai pasok.
Nota Kesepahaman terkait TCTP yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2021 lalu telah diperbarui pada Mei 2025 melalui penandatanganan antara Menko Airlangga dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao, dan disaksikan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Li Qiang.
Hal tersebut menjadi salah satu wujud nyata dalam menunjukkan komitmen politik yang kuat di tingkat tinggi.
Sebagai bagian integral dari penguatan kerja sama TCTP tersebut, telah dilakukan penandatanganan 16 proposal proyek antara perusahaan-perusahaan Fujian dan mitra-mitra Indonesia dengan nilai total sebesar US$2,19 miliar atau setara Rp36,7 triliun dengan kurs melansir Revinitiv Rp16.795/ US$ pada penutupan perdagangan 9 Januari 2025. Berbagai proyek tersebut mencakup sejumlah sektor strategis, termasuk logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur, drone, baterai dan kecerdasan buatan.
“Ke depannya, Indonesia menyambut baik kolaborasi yang lebih dalam di bidang infrastruktur, logistik, industri hilir, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, AI, komputasi kuantum, ketahanan pangan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia,” ujarnya. (r)
Editor: AR Manik Raja






