Jakarta, Mediautama.news – Memanasnya kembali hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menandai retaknya poros strategis di kawasan Teluk. Kampanye media Saudi yang kian agresif terhadap Abu Dhabi menunjukkan eskalasi konflik yang tidak lagi terbatas pada isu Yaman, tetapi telah merambah ke ranah politik dan reputasi regional.
Melansir AFP dan mengutip CNBC Indonesia, konflik singkat di Yaman menjadi pemicu utama, ketika Riyadh menghentikan ofensif kelompok separatis yang didukung UEA. Dampaknya dikhawatirkan meluas hingga memengaruhi stabilitas politik dan kepercayaan di pusat-pusat keuangan Timur Tengah.
Media pemerintah Saudi, Al-Ekhbariya TV, menuding UEA ikut memperkeruh konflik regional.
Uni Emirat Arab disebut “berinvestasi dalam kekacauan dan mendukung kelompok separatis” dari Libya hingga Yaman serta Tanduk Afrika, demikian tudingan Al-Ekhbariya TV milik Saudi dalam laporan pekan ini.
Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menilai gesekan lama kini terbuka secara tidak biasa. Dalam kondisi normal, jelas Ana melansir AFP, Minggu (25/1/2026), monarki Teluk sangat berupaya menampilkan citra damai dan stabil, tetapi kini titik-titik gesekan yang sudah lama ada, terbuka ke publik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saling serang di media sosial, menurutnya, mengingatkan banyak dari pihaknya pada keretakan Teluk yang terakhir. “Sekarang Riyadh menyorot sangat terang masalahnya dengan kebijakan regional Abu Dhabi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda,” tegasnya.
Sementara itu, Abu Dhabi cenderung memilih diam. Profesor ilmu politik UEA Abdulkhaleq Abdulla menyebut negaranya tidak ingin memancing konflik.
“UEA tidak punya kebiasaan memprovokasi kakak besar kami,” kata Abdulla.
“Kami telah menjadi, karena keberhasilan kami sendiri, sebuah panutan, sebuah kekuatan regional. Apakah itu salah kami?” lanjut dia.
“Kami tidak ingin memprovokasi Arab Saudi,” tegasnya.
Dari pihak Saudi, analis Soliman Al-Okaily menyebut ada kekecewaan mendalam terhadap UEA.
“Ada perasaan yang mendalam di Saudi bahwa Uni Emirat Arab telah mengkhianati kemitraan strategis dengan Saudi dan kini memicu krisis di dalam lingkup pengaruh strategis Saudi,” kata Al-Okaily.
Media Saudi pun mengisyaratkan langkah balasan. “Dengan Abu Dhabi yang menghasut melawan Arab Saudi, kerajaan tidak akan ragu mengambil langkah dan tindakan yang diperlukan terhadapnya,” demikian bunyi buletin Ekhbariya pekan ini.
Meski kecil kemungkinan terjadi putus hubungan, Okaily memperingatkan Riyadh bisa mengambil tekanan ekonomi.
“Riyadh bisa mengambil langkah-langkah ekonomi yang menyakitkan,” ujarnya.
Di tengah ketegangan, manuver diplomatik kedua negara juga bergerak cepat. UEA bertemu India untuk mendorong kemitraan pertahanan strategis, sementara Saudi meneken perjanjian pertahanan dengan Pakistan.
Pekan ini, presiden UEA bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi, dan sepakat untuk bekerja menuju kemitraan pertahanan strategis.
Itu terjadi setelah Riyadh menandatangani perjanjian pertahanan dengan Pakistan, rival India yang memiliki senjata nuklir.
Analis New America, Adam Baron, menilai konflik ini belum mengarah pada pecah total, meski tensinya tinggi.
“Meski serangan publik berlangsung ganas, masih ada jarak sebelum benar-benar terjadi perpecahan total,” kata Baron.
“Saya pikir ini sekaligus menjadi sinyal pesan soal potensi menahan diri, tetapi juga menunjukkan kapasitas untuk eskalasi,” sambungnya.(r)
Editor: Edward






