Piala Dunia 2026 Terancam Boikot, Sepp Blatter Ragukan Keamanan AS

Mantan presiden FIFA Sepp Blatter.(Foto: AFP/FABRICE COFFRINI)

Jakarta, Mediautama.news – Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menyatakan dukungannya terhadap wacana boikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, menyusul kekhawatiran terhadap situasi keamanan yang dinilai tidak menentu.

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, Blatter menilai faktor keamanan di AS berpotensi menjadi hambatan serius bagi kenyamanan dan keselamatan para suporter.

Dukungan Blatter tersebut sejalan dengan pernyataan pengacara antikorupsi Mark Pieth, yang pernah bekerja sama dengannya di FIFA.

Dalam sebuah wawancara, Pieth menilai kondisi keamanan di Amerika Serikat saat ini dapat menimbulkan keraguan di kalangan penggemar sepak bola dunia untuk datang langsung ke stadion.

Menurut Pieth, ketidakpastian keamanan berisiko mencoreng atmosfer turnamen terbesar sepak bola dunia itu, sehingga wacana boikot dinilai sebagai bentuk peringatan serius bagi penyelenggara agar menjamin keselamatan publik.

“Saya rasa Mark Pieth benar mempertanyakan Piala Dunia kali ini,” ujar Blatter yang diunggah di akun Twitter pribadinya mengutip CNN Indonesia.

Sebelumnya, Pieth menyerukan fans sepak bola agar menjauhi AS yang diklaim sedang tidak kondusif. “Bagi para suporter, hanya ada satu nasihat: jauhi AS!” ujar Pieth.

Selain itu, Pieth juga menyinggung penembakan demonstran di Minnesota oleh agen federal Amerika Serikat dalam sebuah wawancara dengan media Swiss Tages-Anzeiger. Insiden tersebut jadi salah satu alasan bagi fans untuk menghindari AS.

Lebih lanjut Pieth mengatakan, para suporter dari mancanegara bisa terancam dideportasi dari AS jika tidak berperilaku baik terhadap pihak berwenang.

Blatter sendiri pernah mengundurkan diri dari jabatan presiden FIFA pada 2015 di tengah dugaan sejumlah skandal. Posisinya kemudian digantikan Gianni Infantino yang menjabat hingga saat ini

Blatter dan mantan presiden UEFA, Michel Platini, tahun lalu dibebaskan secara definitif dari tuduhan keterlambatan pembayaran sebesar 1,8 juta euro yang dilakukan FIFA kepada Platini pada 2011.

Platini juga baru-baru ini menyinggung Infantino sebagai otokrat yang menyukai sosok kaya dan berkuasa. Kritik itu didasari hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump.(r)

Editor: AR Manik Raja