EKBIS  

China Kurangi Babi Putih Impor, Konsumen Beralih ke Babi Hitam Lokal

Peternakan Babi: Peternakan Babi di pinggiran Chengdu di Provinsi Sichuan Barat Daya China (Foto: AFP via Getty Images/PETER PARKS)

Jakarta, Mediautama.news – China mulai mengurangi ketergantungan pada daging babi putih impor dari negara-negara Barat dan beralih ke babi hitam lokal yang dinilai memiliki kualitas lebih tinggi serta bernilai premium. Pergeseran preferensi konsumen ini muncul di tengah tekanan berat yang membelit industri daging babi terbesar di dunia, akibat kelebihan pasokan dan merosotnya harga.

Perubahan tersebut tercermin dari pengalaman Gao Xianghua, seorang pedagang telur kepiting. Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, ia memilih membeli iga, kaki, dan sosis babi hitam dengan total nilai mencapai 1.000 yuan, atau sekitar Rp2,2 juta, mencerminkan meningkatnya minat konsumen terhadap produk babi lokal berkualitas tinggi.

Gao Xianghua mengatakan, bahwa ia ingin anak-anaknya makan daging babi berkualitas yang biasa dinikmatinya saat kecil.

“Jadi, bukan daging babi murah yang diproduksi cepat ,” kata Gao saat ditemui di toko daging di lingkungannya, seperti dikutip Reuters dan dilansir dari CNBC Indonesia, Senin (2/2/2026).

Babi hitam, bagi konsumen kelas menengah dan pembeli usia lebih tua di China bukan sekadar makanan, melainkan nostalgia masa kecil ketika babi dipelihara di rumah dan disembelih untuk acara keluarga besar menjelang Imlek.

Daging babi hitam kerap dipasarkan sebagai ‘Wagyu-nya daging babi’ karena teksturnya yang lebih berlemak dan empuk. Harganya bisa mencapai empat kali lipat dibanding daging babi putih hasil persilangan Barat yang tumbuh cepat.

Lonjakan permintaan ini justru menjadi titik terang bagi produsen yang terhimpit krisis. Selama bertahun-tahun, industri babi China terpukul oleh permintaan lemah, ekonomi yang melambat, serta kelebihan kapasitas produksi pasca wabah demam babi Afrika.

Pada Desember lalu, pendapatan industri daging babi tercatat turun 14,6% secara tahunan. Produsen besar seperti Wen Foodstuff Group melaporkan laba bersih 2025 anjlok hingga 46,1%, sementara Muyuan Foods memperkirakan laba bersih turun sampai 17,8%.

Di tengah tekanan tersebut, babi hitam dianggap sebagai penyelamat. Yang Xinchun, peternak di Taizhou, mengaku memperoleh laba bersih lebih dari 1 juta yuan atau sekitar Rp2,2 miliar sepanjang 2025 dari 1.000 ekor babi hitamnya.

Menurutnya, babi hitam menutupi kerugian dari 6.000 ekor babi putih yang dipeliharanya. Dan saat ini, banyak peternak lain kini datang ke tokonya untuk belajar dari pengalamannya.

Yang berencana memperluas peternakan menjadi 15.000 ekor babi hitam serta memperbanyak toko dagingnya menjadi 40 waralaba.

Sementara, Direktur Asosiasi Ilmu Hewan dan Kedokteran Hewan China menegaskan bahwa babi hitam adalah satu-satunya jalan keluar bagi produsen babi, terutama peternak kecil dan menengah yang tertekan harga babi putih.

Tren ini juga menarik minat raksasa industri. Wen Foodstuff menargetkan babi hitam menyumbang 5% dari total ternaknya pada 2027, sementara New Hope memperluas populasi babi hitamnya yang kini telah melampaui 150.000 ekor.(r)

Editor: Edward