Jakarta, Mediautama.news – Permintaan minyak sawit diprediksi melemah seiring meningkatnya pasokan minyak nabati alternatif yang lebih kompetitif ke China. Sebagai konsumen terbesar minyak sawit dunia, dinamika di negara tersebut akan sangat berpengaruh terhadap harga global.
Saat ini, China memperoleh harga lebih murah untuk minyak kedelai dan kanola. Kondisi tersebut berpotensi menekan impor minyak sawit serta memengaruhi keseimbangan pasar global.
Akses lebih luas terhadap minyak kanola dengan harga kompetitif akan semakin terbuka pasca Kesepakatan dagang antara China dan Kanada. Selain dari Kanada, China juga meningkatkan pembelian kanola dari Australia serta impor minyak kedelai dalam jumlah besar. Dinamika ini turut menekan permintaan minyak sawit di negara tersebut.
Meskipun ada harapan kenaikan permintaan di Tahun Baru Imlek, pelaku pasar menilai permintaan China tidak akan setinggi sebelumnya. Pasalnya, Tiongkok kini memiliki lebih banyak opsi minyak nabati dengan harga relatif lebih murah.
“Saya pikir pihak China, dalam beberapa hal, tidak terlalu terdesak karena mereka memiliki banyak pilihan dibandingkan India. Pihak China masih sangat memperhatikan harga di bursa Dalian,” ujar analis tersebut kepada Reuters menjelang konferensi industri di Kuala Lumpur, dikutip dari BusinessTimes melansir CNBC Indonesia.
Harga minyak sawit Indonesia yang lebih kompetitif, jelasnya, turut memengaruhi ekspor minyak sawit Malaysia ke China.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) melaporkan bahwa ekspor ke China turun 35,7% tahun lalu. Namun demikian, Malaysia berpotensi mengambil keuntungan dari rencana kenaikan pungutan (levy) ekspor Indonesia yang dijadwalkan berlaku pada Maret, kata analis tersebut.
Sementara itu, seorang analis dari Indonesia memperkirakan harga minyak sawit akan sedikit menurun tahun ini karena produksi sawit yang kuat serta output minyak kedelai (soyoil) yang juga tinggi menekan pasar.
China sangat bergantung pada impor minyak nabati dari luar negeri (seperti minyak sawit, minyak kedelai, rapeseed/kanola, dan bunga matahari) untuk mendukung produksi domestiknya, sehingga membuat negara tersebut sangat rentan terhadap volatilitas harga global dan gangguan pasokan.
Meskipun minyak kedelai masih mendominasi dengan menyuplai sekitar 40% konsumsi minyak goreng China, penggunaan minyak sawit terus meningkat secara bertahap, sebagian karena harganya yang lebih murah, serbaguna, dan memiliki daya simpan yang lebih lama.(r)
Editor: AR Manik Raja






