Jakarta, Mediautama.news – Fenomena Gerhana Matahari Cincin diprediksi terjadi pada Selasa (17/2/2026). Hal ini diinformasikan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, NASA.
Gerhana ini muncul saat posisi Bulan berada lebih jauh dari Bumi sehingga ukurannya tampak lebih kecil dan tidak menutup Matahari secara sempurna, menyisakan lingkaran cahaya menyerupai cincin.
Para ahli, melansir CNNIndonesia dari NASA, memperingatkan bahwa pengamatan gerhana matahari cincin tanpa perlindungan khusus sangat berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatan. Berbeda dengan gerhana Matahari total, gerhana cincin tidak memiliki satupun fase yang aman untuk dilihat langsung dengan mata telanjang.
Tidak main-main, melihat bagian Matahari yang masih terang baik dengan mata telanjang maupun melalui kamera, teropong, atau teleskop tanpa filter Matahari di bagian depan optik dapat menyebabkan cedera mata serius dan permanen secara instan.
Masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana secara langsung diwajibkan menggunakan kacamata gerhana khusus atau alat pengamat matahari portabel yang telah terverifikasi keamanannya. Penggunaan kacamata hitam biasa, meskipun memiliki lensa yang sangat gelap, masih tidak aman karena tidak mampu meredam intensitas cahaya Matahari yang merusak.
Alat pengamat matahari yang aman harus ribuan kali lebih gelap dan memenuhi standar internasional ISO 12312-2.
Selain itu, jangan melihat Matahari melalui perangkat optik seperti kamera, teleskop, atau teropong meskipun sedang menggunakan kacamata gerhana. Cahaya Matahari yang terkonsentrasi melalui lensa alat optik dapat membakar filter kacamata dan langsung mencederai mata, sehingga filter khusus harus dipasang di bagian depan lensa alat optik tersebut.
Jika tidak memiliki peralatan yang memadai, pengamatan disarankan dilakukan menggunakan metode tidak langsung seperti proyektor lubang jarum.
Selain perlindungan mata, masyarakat juga diimbau menggunakan tabir surya dan topi karena paparan sinar matahari langsung selama proses gerhana yang berlangsung lama tetap berpotensi merusak kulit.(r)
Editor: AR Manik Raja






