Jakarta, Mediautama.news – Perayaan Tahun Baru Imlek di China mengalami transformasi akibat generasi muda yang merayakannya secara virtual, seperti membakar dupa digital, bertukar hadiah elektronik, hingga menggunakan AI.
Tradisi kuno beralih ke ranah digital dengan “cyber worshipping”. Mengutip South China Morning Post dan melansir CNBC Indonesia melaporkan, beberapa aplikasi menyediakan simulator kayu ikan elektronik, sementara situs kuil daring menawarkan layanan seperti penawaran dupa dan pemujaan Buddha virtual ramah lingkungan, praktis, dan terjangkau mulai dari 5,9 yuan (sekitar Rp14.300).
Salah satu platform melayani 891.500 pengguna dengan 1,23 juta pita doa dan 539.800 lampion digital.
Selain itu, AI menjadi pelipur lara bagi muda-mudi yang mengalami tekanan sosial selama Imlek. Banyak yang memilih menjauhi kampung halaman dan mencari kenyamanan melalui pendamping AI, seperti halnya Su Ran yang merasa lebih hangat dengan karakter AI di ponselnya.
Hadiah digital juga semakin populer, seperti yang dipilih oleh Yang kelahiran 2002 karena dianggap lebih kreatif. Menurut psikiater Shi Yu, hadiah digital lebih sesuai dengan kebutuhan generasi muda karena menghilangkan kerepotan berbelanja fisik, menjembatani jarak dan memungkinkan personalisasi.(r)
Editor: AR Manik Raja






