Jakarta, Mediautama.news – Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti kaum perempuan, karena peluang untuk kembali sehat bagi si penderita sangatlah kecil dan kerap menyebabkan si penderita mengakhiri hidupnya.
Penyebab munculnya kanker payudara ini beragam, mulai dari faktor hormonal, gaya hidup, hingga mutasi gen tertentu. Walau sama-sama kanker payudara, ternyata cukup banyak kasus dimana kankernya lebih agresif dan cepat menyebar.
Selain kanker yang sudah masuk stadium lanjut, sebenarnya keganasan kanker payudara juga disebabkan oleh adanya HER2 (Human Epidermal Growth Factor Receptor 2) yaitu protein yang terlibat dalam pertumbuhan sel di permukaan jenis sel kanker termasuk kanker payudara.
HER2 adalah protein yang berperan dalam pertumbuhan sel, termasuk sel kanker, sehingga keberadaannya dapat membuat kanker payudara menjadi lebih agresif dan sulit diatasi, terutama jika tidak terdeteksi sejak awal atau sudah mencapai stadium lanjut.
Untuk mengetahui ada tidaknya HER2 pada pasien kanker payudara, diperlukan pemeriksaan Histopatologi dan Imunohistokimia (IHK). HER2 berperan sebagai reseptor pada permukaan sel payudara, yang mengirimkan sinyal untuk merangsang pertumbuhan dan pembelahan sel.
Pada kanker payudara HER2-positif, gen yang memproduksi protein HER2 mengalami mutasi sehingga menghasilkan terlalu banyak protein. Ini menyebabkan sel-sel kanker tumbuh dan menyebar lebih cepat dibandingkan dengan jenis kanker lainnya.
Dokter penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik Andhika Rachman, dikutip dari Kompas.com mengatakan, pemeriksaan lebih rinci, termasuk mengetahui HER2 sangat penting agar pasien mendapat pengobatan dan terapi sesuai target.
Kategori HER2 dalam kanker payudara sendiri terbagi dalam tiga jenis, yakni HER2 Positif, HER2 Negatif dan HER2 Low. Pada HER2 Positif, sel kanker menunjukkan ekspresi tinggi dari reseptor HER2. Meski sifat sel kankernya agresif, tetapi merespon sangat baik pada pengobatan terapi target untuk kanker. “Pasien HER2 positif ini umumnya mendapatkan terapi target dengan obat-obatan, seperti trastuzumab,” ungkap dr Andhika.
Sedangkan kategori HER2 negatif tidak ditemukan ada ekspresi HER2 yang signifikan dan bisa diberi pengobatan kanker konvensional. Terakhir adalah kategori baru, yaitu HER2 Low, di mana sel kanker menunjukkan ekspresi HER2 rendah, yang sebelumnya dianggap sebagai HER2 negatif. Penelitian terbaru menunjukkan, sekitar 55 persen kasus kanker payudara termasuk kategori HER2-Low.
Terapi target seperti Trastuzumab deruxtecan akan bekerja dengan cara menempel pada reseptor HER2, bahkan jika ekspresi HER2 hanya rendah (low). “Setelah menempel, obat ini melepaskan senyawa sitotoksik yang bekerja seperti ‘rudal’ untuk menghancurkan sel kanker,” katanya.
Terapi target juga bisa dikombinasikan dengan kemoterapi, terapi hormonal, atau pembedahan, tergantung pada stadium dan kondisi pasien. Walau pengobatan kanker semakin maju, sangat penting untuk melakukan deteksi dini kanker dengan mamografi atau melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari).
Gejala awal kanker payudara biasanya terdeteksi dari munculnya kelainan pada payudara, seperti timbulnya benjolan, penebalan kulit, serta perubahan bentuk dan ukuran payudara.
Selain itu, bisa timbul rasa nyeri, pengerutan kulit payudara, keluarnya cairan dari puting susu, puting susu tertarik ke dalam, dan muncul luka pada payudara. Segeralah memeriksakan diri ke dokter jika terlihat tanda-tanda seperti itu (r)
Editor: Joko






