DUNIA  

Putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, Resmi Pimpin Iran

Mojtaba Khamenei (kanan), putra dari mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kiri).(Foto:WIKIMEDIA COMMONS via WION)

Jakarta, Mediautama.news – Ayatollah Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, setelah dipilih oleh Majelis Ahli Iran pada Senin (9/3/2026). Penunjukan ini menjadikan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi ketiga dalam sistem Republik Islam Iran.

Mojtaba Khamenei dikenal sebagai ulama tingkat menengah yang memiliki pengaruh kuat di kalangan pasukan keamanan Iran serta jaringan bisnis yang berkembang di bawah kepemimpinan ayahnya. Ia sebelumnya dipandang sebagai kandidat terkuat menjelang proses pemilihan oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama.

“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan resmi majelis yang dirilis tepat setelah tengah malam waktu Teheran, dikutip dari AFP dan melansir Kompas.com.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei memegang kewenangan tertinggi dalam seluruh urusan negara di Iran, termasuk kebijakan politik, militer, dan keamanan nasional. Dalam pernyataannya, Majelis Ahli menegaskan bahwa Iran tidak ragu sedikit pun dalam menetapkan pemimpin baru meski negara itu tengah menghadapi tekanan dan konflik dengan Amerika Serikat serta Israel.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyebut Mojtaba sebagai sosok yang tidak memiliki bobot politik. Trump juga menegaskan bahwa dirinya ingin memiliki pengaruh dalam penunjukan pemimpin baru Iran tersebut.

“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” ujar Trump kepada ABC News sebelum pengumuman resmi penunjukan itu disampaikan.

Pekan lalu, Mojtaba dilaporkan selamat dari serangan udara AS dan Israel. Informasi tersebut disampaikan dua sumber Iran kepada Reuters pada Rabu (4/3/2026).

Menurut sumber tersebut, Mojtaba selama ini dipandang oleh kalangan penguasa Iran sebagai salah satu kandidat penerus ayahnya. Salah satu sumber Iran mengatakan, Mojtaba tidak berada di ibu kota ketika serangan terjadi. “Dia (Mojtaba) masih hidup. Dia tidak di Teheran ketika Pemimpin Tertinggi terbunuh,” kata sumber tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, melansir Kompas.com, pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan oleh sebuah badan khusus bernama Majelis Ahli. Badan ini terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali.

Namun, proses ini memiliki mekanisme yang ketat. Setiap kandidat yang ingin menjadi anggota Majelis Ahli harus terlebih dahulu melewati pemeriksaan dan mendapatkan persetujuan dari Dewan Penjaga. Dewan ini merupakan badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.

Apabila jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli akan segera berkumpul untuk menentukan pengganti melalui proses pemungutan suara sederhana. Proses pemilihan sederhana sudah cukup untuk menunjuk pemimpin tertinggi yang baru.

Sesuai dengan konstitusi Iran, kandidat harus seorang ahli hukum senior dengan pengetahuan mendalam tentang yurisprudensi dalam Islam Syiah, serta memiliki kualitas seperti penilaian politik, keberanian, dan kemampuan administrasi.

Sebelumnya, hanya ada satu kali peralihan kekuasaan di jabatan pemimpin tertinggi Iran, yaitu ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam, meninggal dunia pada usia 86 tahun pada tahun 1989.(r)

Editor: AR Manik Raja