DUNIA  

Alarm WFP: Dunia di Ambang Kelaparan Global Akibat Gejolak Timur Tengah

Serangan Udara: Serangan udara di Bandara Internasional Mehrabad di Teheran, Iran pada Sabtu (7/3/2026) dini hari waktu setempat. Terlihat gumpalan asap dan api membumbung ke udara dini hari waktu setempat. (Foto: ATTA KENARE /AFP via CNBC Indonesia)

Jakarta, Mediautama.news – World Food Programme (WFP) mengingatkan bahwa meningkatnya konflik di Timur Tengah berisiko memicu lonjakan kelaparan global hingga mencetak rekor baru pada 2026, akibat dampaknya yang meluas terhadap ekonomi dan rantai pasok dunia.

Dalam analisis terbarunya, melansir CNBC Indonesia, WFP menyebut hampir 45 juta orang berpotensi jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut jika konflik berlanjut hingga pertengahan tahun dan harga minyak bertahan di atas US$100 per barel. Angka ini akan menambah sekitar 318 juta orang yang saat ini sudah mengalami kerawanan pangan di berbagai negara.

WFP menilai kondisi ini berisiko mengulang krisis global saat perang Rusia-Ukraina pada 2022, ketika jumlah penduduk yang mengalami kelaparan mencapai rekor 349 juta jiwa. Dampak konflik Timur Tengah dinilai sama seriusnya karena keterkaitan erat antara harga energi dan harga pangan.

Kenaikan biaya energi mendorong inflasi pangan, sementara penurunan harga biasanya berlangsung lambat. Situasi ini membuat keluarga rentan lebih cepat kehilangan akses terhadap makanan pokok, bahkan bagi mereka yang sebelumnya masih mampu memenuhi kebutuhan harian.

Selain itu, gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz dan meningkatnya risiko di Laut Merah memperburuk rantai pasok global. Biaya pengiriman, bahan bakar, dan pupuk ikut melonjak, sehingga berpotensi memicu inflasi baru dan mengganggu produksi pangan, terutama menjelang musim tanam 2026.

Menurut WFP, wilayah Afrika sub-Sahara dan Asia menjadi yang paling rentan. Jumlah penduduk rawan pangan diperkirakan meningkat signifikan, masing-masing sekitar 21 persen di Afrika Barat dan Tengah, 17 persen di Afrika Timur dan Selatan, serta 24 persen di Asia.

Sejumlah negara sudah merasakan dampaknya. Sudan yang masih bergantung pada impor gandum menghadapi tekanan harga, sementara di Somalia harga komoditas penting telah naik sekitar 20 persen di tengah kondisi kekeringan.

Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau menegaskan, tanpa respons kemanusiaan yang memadai, situasi ini dapat berubah menjadi bencana besar. Ia menyebut kelompok paling rentan akan menjadi pihak yang paling terdampak jika konflik terus berlanjut.

Di tengah kondisi tersebut, WFP juga menghadapi keterbatasan pendanaan yang memaksa prioritas bantuan diperketat. Meski demikian, organisasi ini terus menyalurkan bantuan darurat di wilayah terdampak, termasuk di Lebanon, Suriah, dan Iran, guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.(r)

Editor: Edward