Home / HUKUM / VIDEO

Rabu, 22 Januari 2020 - 22:31 WIB

Sidang Tansri Chandra Dikawal Puluhan Preman, Wartawan Dihalangi Meliput

MediaUtama | Medan – Sidang lanjutan oknum pengusaha hotel Tansri Chandra alias Tan Ben Chong (73), terdakwa pencemaran nama baik dan penghinaan lewat akun Grup WA marga Tan, diduga kuat sengaja puluhan orang diduga preman ‘diturunkan’ untuk mengawal sidang, Rabu (22/01/2020).

Beberapa pria berbadan tegap sengaja berdiri di pintu masuk ruangan sidang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN). Arogansi massa tidak tanggung-tanggung, mereka nekat mensortir pengunjung sidang termasuk awak media yang setiap harinya meliput berita sidang di Pengadilan Negeri kelas I A Khusus tersebut.

Haf, salah seorang wartawan media online di Medan pun sempat terlibat cekcok dengan massa di pintu tersebut. Karena dihalangi untuk masuk keruangan, Haf kemudian meminta bantuan tenaga security Zainal Arifin pengadilan dan akhirnya diperbolehkan masuk.

Padahal sebelumnya Haf sudah beberapa kali minta tolong untuk jalan masuk kedalam ruangan dan memberitahu kalau dia dari awak Media.

“Tadi saya sudah minta tolong mau masuk ruang sidang. Kubilang dari media tapi macam tidak mereka dengar, iya tadi saya sudah bilang saya dari media. Ada pula malah memelototi saya. Kalau saya ladeni takutnya ribut dan mengganggu jalannya sidang,” urainya.

“Untung tadi pak Security Zainal membantu saya, sempat berapa kali mereka dikasi tau Pak Zainal, akhirnya Pak Zainal berhasil melonggarkan jalan saya masuk kedalam ruangan. Atas kejadian yang menimpa saya ini, saya harap Ketua Pengadilan untuk memperketat keamanan dari massa agar tak terjadi hal hal yang tak diinginkan,” tambahnya.

Sementara dari arena persidangan, saksi korban Tony Harsono merasa nama baiknya tercemar karena postingan terdakwa di WA grup marga Tan menyebutkan ‘G6 merampok uang IT&B senilai Rp2,4 miliar’.

“Mana buktinya kami merampok?, sementara uang yang kami terima itu adalah uang kompensasi supaya kami mundur dari yayasan. Persisnya kami dipaksa mundur supaya dia (terdakwa) menguasai yayasan (Lautan Mulia, red) itu,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan saksi lainnya Teddy Sutrisno dan Gani. Mereka mengaku dipaksa untuk mundur dari yayasan tersebut dan memang tradisinya mendapatkan kompensasi.

Sementara saat ditanya dipersidangan, apakah nama saksi tercemar dan apakah saksi keberatan dikarenakan ada di WA yang mengatakan merampok?, dengan cepat saksi menjawab iya.

“Ya iyalah,” ucap saksi.

IKLAN ADS

Usai mendengarkan keterangan ketiga saksi, majelis hakim diketuai Erintuah Damanik menunda persidangan pekan depan dan memerintahkan JPU Edmon Purba menghadirkan saksi-saksi lainnya.

Pantauan awak media, kehadiran massa yang arogan menghalang-halangi awak media meliput sidang tersebut sempat dimonitor oleh Ketua PN Medan, Sutio Jumagi Akhirno yang langsung memonitor situasi di Ruang sidang Cakra 6 tersebut.

“Sidangnya baru selesai pak,” ucap Zainal, salah seorang security pengadilan ketika menghampiri Sutio Jumagi.

Sementara itu Taufik Siregar selaku penasihat hukum (ph) terdakwa menyatakan, tidak tahu menahu dengan kehadiran massa tersebut dan dirinya hanya fokus dengan pelaksanaan persidangan.

Terpisah, Dr Japansen Sinaga selaku kuasa hukum korban Tony Harsono menguraikan, pembentukan Yayasan Lautan Mulia berkaitan dengan dibukanya Sekolah Tinggi ITM&B di bilangan Jalan Mahoni Medan.

Di luar akte ada perjanjian di antara sesama anggota yayasan kebetulan bermarga Tan mensupport (meminjamkan) dana seperti belanja perabotan, alat tulis dan fasilitas kantor IT&B.

“Bila prospek di sekolah tinggi tersebut maju, maka para donatur termasuk klien saya yang menjadi korban pencemaran nama baik dan penghinaan tersebut berhak mendapatkan keuntungan. Padahal faktanya mereka disuruh mundur dari yayasan dan berhak mendapatkan kompensasi keuntungan IT&B,” jelasnya.

Postingan terdakwa lewat akun medsos Grup WA Yayasan Sosial Lautan Mulia, “INGAT G6. MERAMPOK UANG IT&B JUMLAH RP 2.400.000.000” dinilai mengandung unsur penghinaan sekaligus mengantarkannya ke ‘kursi pesakitan’ Cakra 6 PN Medan. Terdakwa dijerat pidana Pasal 27 ayat (3) Jo pasal 45 ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016 Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang ITE.

Mengutip dakwaan JPU, terdakwa Tansri Chandra alias Tan Ben Chong secara bertahap tertanggal 16 Maret 2019, 21 Maret 2019, 16 April 2019 dan tanggal 22 April 2019 di Jalan Kolonel Yos Sudarso, Lingkungan 14, Glugur Kota, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan membuat posting berupa tulisan / gambar.

Antara lain berisikan, Tony harsono, wataknya prima, IQ tinggi, alias aseng tukang bakar, kalau pake dijalan jadi professor, merampok uang IT&B Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah kalau dilihat tampang nya seperti SUHU, dia tahu kalau uang ini Rp300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) juta uang haram, jadi takut dihukum.

Maka diutus sekretaris nona cantik yang ambil uang haram Rp300 juta untuk muat berita di Koran seharusnya Tony Harsono dkk, (karena tan posing suka tonjol di depan, jadi dibujuk pake nama tan poseng), si Tony Harsono tahu IT&B, ini kampus untuk anak-anak tuntut ilmu.

 

(MU/RED)

Share :

Baca Juga

HUKUM

Dua Pelaku Pembobol Rumah di Jalan Air Bersih Diringkus Polsek Medan Area

HUKUM

Polisi Kembali GKN di Jalan Jermal 15, Puluhan Mesin Tembak Ikan Diamankan

HUKUM

Joni Iskandar Pasrah Divonis Hukuman Mati     

HUKUM

Info Pak Kapolres, 303 di Brahrang Sedang Aktif

HUKUM

Usai Divonis Bebas, Oknum Jaksa Kejari Tapsel Pukuli Terdakwa Pakai Senpi

HUKUM

Bunuh dan Buang Jasad Pria Mr X ke Sungai Denai, Toni Diadili di PN Medan

BERITA UTAMA

Ketua PWI Sumut: Kapolres harus Pro Aktif Seret Dalang Penganiaya Jurnalis Siantar

HUKUM

Kasus Penipuan 35 SHGB, Hakim Sebut Penyidik Bisa Mendalami Dugaan Keterlibatan Para Komisi Bank BTN Cabang Medan