Home / HUKUM

Kamis, 29 Oktober 2020 - 11:08 WIB

Kasus Dugaan Pemalsuan Akte Hotel Griya, Saksi Akui Beli Saham dari Robert Hutahean

Ket Foto : Kedua saksi dihadirkan JPU di ruang Cakra 9 Pengadilan Negeri Medan.

Ket Foto : Kedua saksi dihadirkan JPU di ruang Cakra 9 Pengadilan Negeri Medan.

MediaUtama | Medan – Sidang lanjutan kasus dugaan pemalsuan akte notaris terkait saham Hotel Griya Medan, atas nama terdakwa Robert Hutahean (54), kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Persidangan ini berbeda dengan sidang sebelumnya yang digelar secara virtual (online). Pada sidang yang digelar di ruang Cakra-9, Selasa (27/10/2020), terdakwa terlihat hadir di kursi pesakitan.

Dua saksi yang didengar keterangannya antara lain, Irfandi selaku salah seorang pemegang saham hotel Griya, dan  Gordon Eliwon Harianja, notaris yang menerbitkan Akte No 16.

Saksi Irfandi mengakui jika semula merupakan karyawan PT. Berlian Sarana Wisata (BSW)  yang mengelola Hotel Griya, dengan jabatan Humas dan Personalia. Belakangan saksi membeli saham PT ( BSW) dari terdakwa sebanyak 70 lembar.

Mendengar pernyataan itu, JPU Sani Sianturi langsung mengajukan pertanyaan, “Apakah karyawan boleh membeli saham PT BSW ?”

Irfandi menjawab ” Boleh, sesuai undang-undang perseroan terbatas, ” kata saksi.

Jawaban itu langsung ditangkis JPU dengan mengatakan, karyawan boleh memiliki saham, apabila disetujui oleh dua komisaris PT BSW, sesuai dengan undang-undang perseroan terbatas.

Perusahaan PT BSW, papar JPU, memiliki dua komisaris, yakni terdakwa Robert Hutahean dan saksi korban Aini Sugoto.

Saksi Irfandi juga ditanya soal Akte No 14  tanggal 16 Agustus 2018, yang memiliki dua versi.  Pertama, versi yang dipegang Aini Sugoto yang menyatakan PT BSW hanya memiliki dua komisaris (pemilik saham) yakni Aini Sugoto dan terdakwa.

Sedang versi kedua yang dipegang terdakwa, yang menyatakan pemegang saham ada beberapa orang, yakni terdakwa Robert Hutahean, Aini Sugoto juga Irfandi 70  lembar, Darsono Sormin 20 lembar, dan  Syahrial 10  lembar saham.

Saksi Irfandi mengakui hanya mengetahui Akte No 14 yang dipegang terdakwa Rober Hutahean. Sedangkan Akte No 14 yang dipegang Aini Sugoto,
saksi mengaku tidak mengetahuinya.

Giliran saksi Gordon Eliwon Harianja, notaris yang diminta oleh terdakwa untuk menerbitkan Akte No16 tanggal 13 Juni 2019.

Minyinggung tentang Akte No 14 yang memiliki 2 versi, Gordon mengaku tidak mengetahuinya. Dan mengetahuinya setelah diperlihatkan penyidik kepolisian.

Usai pemeriksaan kedua saksi, majelis hakim yang diketuai Deson Togatorop menunda persidangansi hingga pekan depan.

IKLAN ADS

Sementara itu, mengutip dakwaan JPU, bermula Aini Sugoto (saksi korban) membeli tanah di Jalan Tengku Amir Hamzah, Blok A Nomor 38,40,42,44-48 Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan yang diatasnya terdapat 4 ruko, yang dirubah menjadi Griya Hotel Medan  yang memiliki 36 kamar.

Tahun 2008, Aini Sugoto sepakat dengan terdakwa membuat Akta CV Berlian Sarana Wisata (BSW). Kemudian ditingkatkan menjadi PT Berlian Sarana Wisata (BSW).

Akta Pendirian, melalui Notaris Ratna Dewi, lalu terbitlah Akte No 10 Tanggal. 16 September 2011 tentang pendirian PT BSW. Modal dasar 100 lembar saham dengan nilai perlembar Rp1 juta sehingga seluruhnya berjumlah Rp 100 juta.

Modal disetor 25 persen dari 100 lembar  saham. Terdakwa memiliki saham 12  lembar Rp12 juta, sedangkan Aini  Sugoto memiliki saham 13 lembar Rp13 juta. Jabatan terdakwa di  PT BSW  sebagai Direktur, dan Aini Sugoto
sebagai Komisaris.

Kemudian  disepakati  pula perubahan jumlah saham, sesuai Akte No 14 yang diterbitkan notaris Ratna Dewi  tanggal 16 Agustus 2918, modal perseroan menjadi 300 lembar, saham dengan nilai perlembarnya Rp1 juta, sehingga seluruhnya sebesar Rp300 juta. Lalu disetor sejumlah 80 lembar saham  dengan nominal seluruhnya Rp80 juta.

Saham yang masih dalam simpanan sejumlah 220 lembar dan akan dikeluarkan oleh perseroan bila diperlukan tambahan modal atas persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sejak berdiri tahun 2011 sampai 2019, terdakwa tidak pernah membuat laporan keuangan. Maka tanggak 10 Juni 2019, diadakan RUPS Luar Biasa.

Hebohnya, RUPS Luar Biasa itu bubar sebelum waktunya, Aini Sigoto tidak berkenan melanjutkan rapat, sebab terdakwa menghadirkan beberapa orang pemegang saham yang tidak dikenal oleh Aini Sugoto.

Rupanya, saham PT. BSW yang disimpan berjumlah  220 lembar tersebut telah dijual terdakwa kepada  Irfandi  sebanyak 70  lembar, Darsono Sormin  sebanyak 20 lembar dan kepada  Syahrial sebanyak 10 lembar.

Dalam RUPS Luar Biasa yang tidak dihadiri Aini Sugoto, terdakwa diangkat sebagai Direktur, saksi Irfandi selaku Wakil Direktur, serta saksi Darsono  Sormin selaku Komisaris dan Syahrizal  serta Aini Sugoto sebagai anggota komisaris.

Kemudian terdakwa meminta  Notaris  Gordon Eliwon Harianja untuk membuat  Akta Penegasan  RUPS Luar Biasa PT. BSW, sesuai dengan hasil rapat 10 Juni tahun 2019.

Akibat perbuatan terdakwa, Aini Sugoto mengalami kerugian Rp 10 miliar. Perbuatan terdakwa diancam dalam pasal 266 ayat (2) KUHPidana.

[MU/Red]

Share :

Baca Juga

HUKUM

Dua ASN Asahan Selingkuh yang Ditemukan Pingsan Separuh Bugil Divonis Bervariasi

HUKUM

Bongkar Rumah Warga, Mantan Napi Asimilasi Ditembak Polsek Medan Labuhan 

HUKUM

Cegah Covid-19, Protokol Pemprovsu Batasi Tamu Undangan Penyerahan Remisi Bebas

HUKUM

Kasus Suap, Mantan Kasubbag Protokoler Pemko Medan Divonis 4 Tahun Penjara

HUKUM

Polsek Percut Sei Tuan Tembak Pelaku Pencurian, Penadahnya Ditangkap

HUKUM

Dituntut 5 Tahun Penjara Terkait Kasus Narkoba, Oknum Polisi Mengaku Ingin Bertobat 

HUKUM

Gelapkan Uang PT Berkat Andijaya Elektrindo Rp 180 Juta, Ceng Pa Dituntut 4 Tahun Bui

HUKUM

Polisi Ungkap Peran 3 Tersangka Bentrokan Mahasiswa Nommensen di Medan