Home / HUKUM

Rabu, 11 November 2020 - 11:46 WIB

Kasus Penipuan 35 SHGB, Hakim Sebut Penyidik Bisa Mendalami Dugaan Keterlibatan Para Komisi Bank BTN Cabang Medan

Ket Foto : Saksi Dayan saat memberikan keterangan di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri Medan.

Ket Foto : Saksi Dayan saat memberikan keterangan di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri Medan.

MediaUtama | Medan – Sidang lanjutan terkait kasus penipuan dan penggelapan 35 sertifikat yang merugikan PT Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan sebesar Rp. 14.775.000.000, dengan terdakwa Canakya Suman SP (40) selaku Direktur PT. Krisna Agung Yudha Abadi (KAYA) kembali digelar di ruang Cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (10/11/2020).

Kali ini, JPU Nelson menghadirkan saksi Dayan Sutomo (58) selaku orang yang mengenalkan terdakwa Canakya kepada pihak Bank BTN Cabag Medan.

Dalam keterangannya, saksi mengaku bahwa ia mengenalkan terdakwa Canakya dengan pihak Bank BTN Cabang Medan untuk mendapatkan Fasilitas Kredit.

“Saya yang mengenalkan terdakwa Canakya kepada Ferry Sonefille Abdullah, SE selaku Kepala Kantor PT. Bank Tabungan Negara untuk mengajukan pinjaman kredit senilai Rp 39,5 miliar,” kata saksi di hadapan majelis hakim yang diketuai Tengku Oyong.

Saksi Dayan mengatakan 93 SHGB tersebut sebelumnya milik Mujianto dan dikuasakan oleh terdakwa Canakya.

Saat ditanyakan JPU Nelson, saksi Dayan membantah bahwa ia menerima fee dari terdakwa sebesar Rp500 juta.

“Jadi, ini ada disebutkan kamu menerima uang fee sebesar Rp500 juta,” tanya JPU.

“Tidak pernah,” bantah saksi Dayan.

Lanjut dikatakannya, “Itu yang 500 juta awalnya dari Bank Sumut pindah ke Bank BTN. Dan saya terima dari Almarhum Antona selaku kepercayaan pak Mujianto,” akunya.

“Dari pinjaman Rp 39,5 miliar total sertifikat ada berapa?.” kata JPU Nelson. “Semua ada 150 unit yang lokasinya di Kompleks Graha. Awalnya semua sertifikat di Bank Sumut dan di takeover ke Bank BTN,” ujar saksi Dayan.

Nah, sambung JPU, dari semua sertifikat ada tidak yang dialihkan atas nama saksi.

Menjawab hal itu, saksi Dayan mengatakan bahwa ada satu sertifikat pemberian terdakwa.

“Saya diberi satu sertifikat dan dijadikan akta jual beli yang sebelumnya atas nama PT Asean Cemara Adavi pada tanggal 05 Juni 2014,” ujar saksi Dayan.

Mendengar hal itu, majelis hakim yang diketuai Tengku Oyong mempertanyakan kepada saksi nomor sertifikat yang diberikan terdakwa kepada saksi.

“Sertifikat Nomor berapa itu,?” tanya hakim Tengku Oyong. ” Nomor sertifikat 214038, yang diberikan Canakya kepada saya,” jawab saksi.

Nah, tanya hakim Tengku Oyong, “Ada keterangan terdakwa disini, bahwa saksi ada meminta uang kepada terdakwa untuk fee orang-orang BTN, cemana itu, ini kata Canakya. Terserah anda, kalau membantah,” cecar hakim Tengku Oyong.

“Tidak ada majelis hakim, saya cuma memberikan hanya berbentuk Souvenir,” akunya.

“Jadi, disini ada keterangan bahwa anda ada menyerahkan uang kepada Ferry Sonefille, uang untuk apa?. Dan apa jabatan Ferry ini, selaku apa dia,” kamu sudah disumpah, itu terserah anda jika anda terbukti berbohong bisa diproses,” tegas hakim Tengku Oyong.

Mendengar itu, saksi Dayan pun tertegun sejenak, namun lagi-lagi saksi membantah bahwa tidak ada memberikan uang fee kepada Ferry selaku Kepala Kantor PT Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan.

IKLAN ADS

“Tidak ada majelis hakim, itu tidak benar, saya hanya memberikan kepada Ferry berbentuk Souvenir,” terang saksi.

Majelis hakim Tengku Oyong kembali mencecar saksi Dayan, apakah saudara saksi sering membantu orang mengurus kredit seperti ini. “Sering majelis hakim,” kata saksi.

Berarti, kamu sudah berpengalaman, kalau kamu sering, kata hakim oyong, kredit itu cair, apakah jaminan itu bisa atas nama bukan milik debitur?.

Menjawab itu, saksi Dayan mengatakan kalau ada surat kuasa itu bisa. “Jadi kalau seperti itu siapa yang dijadikan Debiturnya,” tanya hakim Tengku Oyong.

Saksi Dayan pun menjawab, “Ya itu siapa yang dikuasakan”. Menanggapi itu, majelis hakim Tengku Oyong mengatakan “Yaudahlah, itu menurut pengalaman saudara ya. “Makanya banyak Bank yang bobol, orang belum bisa cair kok cair. Ingat aja komisi-komisi (pihak Bank BTN Cabang Medan) yang kamu bilang tadi, bisa saja penyidik mendalami kasus ini,” tegas hakim Tengku Oyong kepada saksi Dayan.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim yang diketuai Tengku Oyong SH MH menunda persidangan pekan depan dengan agenda keterangan saksi lainnya.

Sementara itu, mengutip dakwaan JPU Nelson Victor mengatakan kasus bermula pada tahun 2014, terdakwa Canakya sebagai Direktur PT. Krisna Agung Yudha Abadi (KAYA) mengajukan kredit pinjaman kepada PT. Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Medan dengan nilai sebesar Rp 39,5 miliar dengan jaminan sebanyak 93 buah Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) atas nama PT. Agung Cemara Realty.

“Dimana saksi Mujianto memberikan kuasa kepada terdakwa Canakya di Kantor Notaris Elvira untuk menjual 93 SHGB dan berdasarkan hal tersebut terdakwa mendapat pinjaman kredit sebesar Rp 39,5 miliar,” kata JPU Nelson.

Selanjutnya, lanjut Nelson, dihadapan saksi Notaris Elviera, terdakwa memberikan kuasa kepada saksi Ferry Sonefille Abdullah, SE selaku Kepala Kantor PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan untuk menjual ke-93 SHGB yang dijadikan sebagai jaminan kredit sebelumnya.

Kemudian, pihak PT. Bank Tabungan Cabang Medan melakukan kesepakatan yang dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama Nomor : 00640/Mdn.I/A/III/2011 tentang Pelayanan Jasa Notaris Dan PPAT Dalam Pelaksanaan Pemberian Kredit Oleh Bank Negara.

Dimana pada awalnya, perjanjian tersebut berjalan lancar dimana sebanyak 58 SHGB telah dilakukan pembuatan Akta Pembebanan Hak Tanggungan.

“Namun, terhadap 35 SHGB yang belum dilakukan APHT, terdakwa Canakya menghubungi saksi Sulianto alias Pak Lek selaku staff notaris Elviera untuk meminta ke-35 SHGB yang sebelumnya terlebih dahulu memberitahukan kepada saksi Notaris Elviera,” urai JPU Nelson Victor.

Setelah 35 sertifikat tersebut berada pada saksi Sulianto langsung menghubungi terdakwa Canakya untuk janji bertemu di Cambridge Hotel dan menyerahkan sertifikat kepada terdakwa Canakya.

Dimana terdakwa Canakya memberikan uang kepada saksi Sulianto secara bervariasi antara Rp 100 ribu s/d Rp 300 ribu dan seterusnya perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa Canakya hingga akhirnya ke-35 sertifikat tersebut berada di tangan terdakwa Canakya.

Pada bulan Juni 2016 sampai dengan Maret 2019 terdakwa mengalihkan dan atau menjual ke-35 sertifikat tersebut kepada orang lain tanpa seizin dari pihak PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan.

Akibat perbuatan terdakwa Canakya, PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan mengalami kerugian berupa hilangnya 35 SHGB yang bernilai kurang lebih sebesar Rp. 14.775.000.000.

“Atas perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 374 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana subs pasal 372 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana subs pasal 378 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana,” pungkas JPU Nelson.

[MU-01]

Share :

Baca Juga

HUKUM

Jadi Jurtul Togel, Pria Ini Dihukum 15 Bulan Penjara

HUKUM

Diduga Gagal Paham, Sekwil FPII Riau Minta Saudara Hondro Pahami UU dan Organisasi

HUKUM

Kakek 64 Tahun Asal Binjai Diadili di PN Medan Terkait Kepemilikan Sabu 100 Gram

HUKUM

Polda Riau Ungkap Perdagangan Kulit dan Organ Harimau Sumatera di Indragiri Hulu

HUKUM

Jadi Perantara Jual-Beli 100 Butir Ekstasi, Ateng Jalani Sidang Perdana

HUKUM

Residivis dan DPO Kasus Sabu, Pria Ini Diamankan Satres Narkoba Polres Madina

HUKUM

Nyambi Jadi Kurir 52 Kg Sabu, Penarik Betor di Medan Tembung Dituntut Hukuman Mati

HUKUM

Muslim Muis: Jangan Sampai PERMA No 5 Tahun 2020 Menghambat Kinerja Jurnalis