SUMUT  

Sabam Manalu Minta Anak Sekolah Minggu Diajarkan Bahasa Batak Agar Budaya Tetap Lestari

Testimoni: Tokoh pemuda dan tokoh HKBP Sabam Manalu ketika memberi testimoni kepada 300 Guru Sekolah Minggu gereja HKBP, se HKBP Distrik X Medan-Aceh, di acara Training of Trainer Guru Sekolah Minggu, di Gereja HKBP Teladan, Resort Medan I, Sabtu (15/7/2023) (Foto: Mu/dok)

Medan, Mediautama.news – Tokoh gereja yang juga tokoh pemuda Sumut Sabam P Manalu SE MAP berpesan kepada para Guru Sekolah Minggu se HKBP Distrik X Medan-Aceh agar mengajarkan anak-anak berbahasa Batak.

Karena pada Guru Sekolah Minggulah pembinaan iman dipercayakan anak-anak orang Kristen dibentuk di setiap ibadah hari Minggu.

“Kami titip anak-anak kepada bapak dan ibu Guru Sekolah Minggu, ajarkanlah mereka Bahasa Batak agar budaya Batak tetap lestari pada tunas- tunas Batak,” kata Sabam Manalu.

Pada hari itu, Saham Manalu yang juga mantan Guru Sekolah Minggu memberi testimoni kepada 300 Guru Sekolah Minggu se HKBP Distrik X Medan-Aceh,
di acara Training of Trainer (TOT) Guru Sekolah Minggu, Sabtu (15/7/2023) di Gereja HKBP Teladan, Resort Medan I.

Kegiatan bertema: Kerjakanlah Keselamatanmu dengan takut dan gentar (Filipi 2:12), digelar panitia rangkaian tahun Profesionalisme dalam Penatalayanan HKBP Distrik X Medan-Aceh yang diketuai Ir Ronald Naibaho MSi.

Sabam mengatakan, Guru Sekolah Minggu adalah garda terdepan membimbing anak balita sampai yang menjelang remaja untuk mengenal Tuhan. Bimbingan rohani dilakukan lewat lagu pujian dari Buku Ende (nyanyian) dan penyampaian firman dari Bibel (Alkitab berbahasa Batak).

Meski dalam pengajaran dalam ibadah para Guru Sekolah Minggu mengajar dalam bahasa Indonesia, tapi diharapkan para Guru Sekolah Minggu perlahan-lahan melakukan penyampaian di dalam Bahasa Batak Toba.

” Karena ciri khas gereja HKBP adalah bahasa Batak, buku nyanyiannya bernama Buku Ende dan kitab suci Bibel ,” ujarnya.

Orang Batak, menurut Sabam, sangat mencintai budayanya. Itu makanya jika merantau gerejanya yakni HKBP dibawa-bawanya. Sehingga tidak heran kalau orang Batak selalu mendirikan gereja HKBP di perantauan, maka HKBP pun berkembang pesat. “Karena di gereja HKBP tata ibadahnya umumnya berbahasa Batak,” tuturnya.

Untuk itu, Sabam kembali menegaskan agar Bahasa Batak ditanamkan pada diri anak-anak agar tumbuh rasa cinta mereka terhadap budayanya sehingga budaya Batak tetap lestari. Karena merekalah warga HKBP di masa akan datang yang terus melestarikan budaya secara berkesinambungan.

” Indonesia terdiri dari beragam budaya dan bahasa, tapi sudah banyak bahasa di Indonesia ini punah karena tidak dilestarikan. Kita tidak mau budaya dan bahasa Batak ikut punah, tapi untung saja ada HKBP, gereja yang menggunakan bahasa Batak di dalam tata ibadahnya, sehingga kita tidak khawatir masa depan kebudayaan Batak,”tuturnya.

Kepada para Guru Sekolah Minggu Sabam mengatakan, bahwa jadi Guru Sekolah Minggu adalah panggilan, tidak mengharapkan upah. Tapi upahnya besar di sorga.

Dia berbagi pengalaman ketika jadi guru Sekolah Minggu selama 9 tahun di HKBP Jeriko Martubung, Medan Utara. Dia membuat anak-anak jadi rajin bersekolah Minggu, sampai orangtuanya ikut rajin beribadah.

Setelah tidak lagi jadi Guru Sekolah Minggu, hidupnya dicukupkan Tuhan sampai dia bisa jadi pengusaha.

“Tekunlah menjalankan panggilan Tuhan sebagai Guru Sekolah Minggu, karena selebihnya akan ditambahkan Tuhan kepadamu, percayalah,” ungkapnya memotivasi. (r/rel).