Kenapa Sehari Bisa Berubah Jadi 25 Jam ? Begini Jawaban Ilmuwan

Bumi (Foto: ilustrasi/pixabay)

Jakarta, Mediautama.news – Berdasarkan prakiraan, ke depan manusia akan mengalami perubahan durasi menjadi 25 jam per hari, bukan 24 jam seperti sekarang ini.

Hal Ini disebabkan oleh Bulan yang secara perlahan menjauh dari Bumi, memengaruhi kecepatan rotasi planet kita.
Saat ini, Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk berputar pada porosnya, tetapi miliaran tahun yang lalu, satu rotasi hanya memerlukan 18 jam.

Penelitian dari University of Wisconsin-Madison menunjukkan bahwa seiring Bulan semakin menjauh, rotasi Bumi melambat, yang pada akhirnya akan memperpanjang durasi satu hari. Fenomena ini memberikan gambaran tentang bagaimana dinamika antara Bumi dan Bulan dapat mempengaruhi waktu di planet kita dari waktu ke waktu.

Profesor di University of Wisconsin-Madison, Stephen Meyers, dikutip dari Indian Express, Selasa (21/8/2024), menyebutkan, saat Bulan menjauh, Bumi berputar melambat seperti figure skater.

“Sekitar 1,5 miliar tahun lalu, jarak Bulan cukup dekat dengan interaksi gravitasi Bumi yang bisa menghancurkannya ,” kata Meyers dilansir dari CNBC Indonesia.

Meyers bersama dengan profesor riset lamont di Columbia, Alberto Malinverno mengembangkan TimeOptMCMC. Ini merupakan pendekatan statistik membantu menentukan hubungan antara hari dengan jarak Bumi dan Bulan.

Hasilnya Bulan terus menjauh dengan kecepatan 3,82 sentimeter per tahun. Artinya satu hari bisa menjadi 25 jam pada 200 juta tahun lagi. Temuan ini, para ilmuwan menyebutnya sebagai siklus Milankovitch. Yakni saat mereka menentukan di mana sinar Matahari didistribusikan di Bumi dan ritme iklimnya.

Sebelumnya penelitian serupa juga pernah diterbitkan. Salah satunya adalah ilmuwan Rusia Jacques Laskar mengenai kekacauan tata surya yang dilakukan 1989.

Namun penelitian dari Wisconsin, disebut Indian Express menekankan lebih jauh soal pergeseran Bulan dan dampaknya pada Bumi. Para ilmuwan juga tengah meneliti batuan lebih tua untuk bisa memahami soal hubungan antara Bulan dan Bumi. (*)

Editor: Joko