Microsoft Jebol! Data Ratusan Organisasi Dunia Bocor

Logo Microsoft (Foto:ilustrasi/pixabay)

Jakarta, Mediautama.news – Sekitar 100 organisasi dilaporkan menjadi korban serangan siber yang memanfaatkan celah keamanan pada server Microsoft SharePoint yang dihosting sendiri (on-premise). Serangan yang terjadi akhir pekan lalu ini berpotensi mengancam lebih dari 10.000 organisasi di seluruh dunia.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, Microsoft pada Sabtu (19/7) mengeluarkan peringatan terkait serangan aktif terhadap SharePoint Server yang dikelola langsung oleh organisasi. Sementara itu, SharePoint versi cloud milik Microsoft dipastikan tidak terdampak.

Serangan ini termasuk kategori zero-day, yakni eksploitasi terhadap celah keamanan yang belum diketahui atau diperbaiki. Pelaku dapat menyusup ke sistem yang rentan dan memasang backdoor untuk mempertahankan akses jangka panjang ke jaringan korban.

Kampanye peretasan ini pertama kali terdeteksi oleh perusahaan keamanan siber Eye Security, yang melaporkan bahwa salah satu klien mereka menjadi target pada Jumat (18/7). Pemindaian lanjutan menggunakan data dari Shadowserver Foundation menemukan hampir 100 organisasi yang telah menjadi korban sebelum teknik peretasan ini tersebar luas ke publik.

“Siapa yang tahu berapa banyak pintu belakang lain yang telah ditanam oleh aktor-aktor berbahaya sejak saat itu,” ujar Vaisha Bernard, Chief Hacker Eye Security, dikutip dari Reuters, Selasa (22/7).

Bernard menolak menyebutkan nama-nama organisasi yang terdampak, namun menyatakan bahwa otoritas nasional yang relevan telah diberi informasi. Shadowserver Foundation membenarkan jumlah korban mencapai 100 organisasi, dengan mayoritas berada di Amerika Serikat dan Jerman. Beberapa di antaranya termasuk lembaga pemerintah.

Masalah ini dianggap sangat serius karena memberi peluang bagi peretas untuk mengakses sistem file, mengubah konfigurasi internal, hingga mengeksekusi kode yang dapat mengendalikan seluruh sistem.

Perusahaan keamanan Censys memperingatkan bahwa lebih dari 10.000 organisasi berisiko terkena dampaknya. “Ini adalah mimpi bagi operator ransomware. Banyak peretas yang diperkirakan akan bekerja ekstra selama akhir pekan ini,” kata Censys dalam pernyataannya, dikutip dari Engadget.

Google Threat Intelligence Group turut menambahkan bahwa kerentanan ini memungkinkan akses terus-menerus tanpa autentikasi, dan bahkan dapat digunakan untuk melewati sistem penambalan di masa depan.

Juru bicara Microsoft mengatakan, bahwa mereka telah menyediakan pembaruan keamanan dan mendorong pelanggan untuk menginstalnya.

Tidak jelas siapa yang berada di balik peretasan yang sedang berlangsung, tetapi Google, yang memiliki visibilitas ke petak-petak lalu lintas internet yang luas, mengatakan bahwa mereka mengaitkan setidaknya beberapa peretasan tersebut dengan aktor ancaman China-nexus. (r)

Editor: Edward