Jakarta, Mediautama.news – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping pada Kamis (30/10/2025).
Pertemuan dua pemimpin besar dunia itu berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) dan menjadi sorotan internasional, mengingat meningkatnya tensi antara Washington dan Beijing belakangan ini.
Trump menyebut pertemuan itu berpotensi menghasilkan kesepakatan penting. Namun, seperti biasa, Xi Jinping mengambil sikap hati-hati terhadap optimisme tersebut. “Trump bersifat personal dan improvisasional, sementara Xi sebaliknya,” ujar Ryan Hass, peneliti senior di Brookings Institution, dikutip AFP dan dilansir dari CNBC Indonesia, Kamis (30/10/2025).
“Trump senang membuat kesepakatan, sedangkan Xi fokus pada strategi jangka panjang,” tambahnya.
Meski hubungan kedua negara kerap tegang, Trump kerap menyanjung Xi. Ia bahkan menyebut Presiden China itu sebagai “teman” yang “dihormatinya”. Namun, Xi tampak tak terlalu menunjukkan antusiasme serupa.
Keduanya memiliki sejarah pertemanan yang menarik. Pada 2017, mereka pernah menghabiskan waktu bersama di resor Mar-a-Lago, milik Trump, di mana sang mantan presiden memuji kemampuan cucunya berbahasa Mandarin. Di tahun yang sama, Xi juga menjamu Trump dalam kunjungan kenegaraan ke Beijing.
Banyak pengamat menilai, upaya membangun kembali hubungan pribadi keduanya dapat menjadi kunci menstabilkan dinamika hubungan AS–China yang kerap memanas.
“Hubungan mereka mungkin merupakan hal terbaik yang terjadi dalam hubungan AS-China saat ini,” kata mantan diplomat tinggi AS untuk Asia Timur, Daniel Kritenbrink.
Intinya pertemuan keduanya akan penting bagi perdagangan, tak hanya AS-China, tapi banyak negara. Berikut adalah isu-isu utama yang dapat dibahas kedua pemimpin, seperti dirangkum CNBC Indonesia:
*Rare Earth (Mineral Penting Logam Tanah Jarang)
Mineral penting logam tanah jarang (rare earth) akan menjadi pusat pembahasan kedua negara. Bidang strategis yang didominasi China ini, penting untuk manufaktur pertahanan, otomotif, dan elektronik baik AS, maupun global.
Diketahui, China bulan lalu, memberlakukan kontrol ekspor yang luas ke komoditas tersebut. Hal itu memicu kemarahan Trump yang mengumumkan tarif balasan sebesar 100% untuk semua barang China, yang awalnya akan berlaku pada hari Sabtu nanti.
Belum diketahui bagaimana keputusan akhir. Namun dalam pertemuan perwakilan AS dan China di sela-sela KTT ASEAN 26 Oktober memberi sinyal deeskalasi ketegangan, dengan Beijing menunda pengetatan ekspor dan AS menunda tarif, sampai kedua pemimpin bertemu.
* Fentanil
Sudah dari awal Trump memberi tudingan ke China soal maraknya peredaran narkotika Fentanil di AS. Bahkan, Trump menerapkan tarif 20% untuk barang-barang impor dari China sejak Maret, karena menganggap ketidakmampuan beijing mengurusi itu.
Namun, sehari sebelum pertemuan dengan Xi Jinping, Trump mengatakan ia berharap dapat menurunkan tarif tersebut. Tapi tetap, Tump mengklaim China belum berbuat cukup banyak untuk menghentikan perdagangan fentanil dan opioid ke negaranya.
Sebenarnya, China sendiri sudah membantah hal tersebut. Pemerintah Xi Jinping mengatakan bahwa mereka telah bekerja sama dengan Washington dan bahwa tarif tidak akan menyelesaikan masalah narkoba.
*Kedelai
Kedelai merupakan komoditas penting bagi ekspor AS. Namun, kasus fentanil membuat Beijing menggunakannya untuk membalas Trump. China mengenakan pungutan terhadap produk pertanian AS, termasuk kedelai.
Lebih dari separuh ekspor kedelai AS dikirim ke China tahun lalu, tetapi Beijing menghentikan semua pesanan seiring memanasnya sengketa perdagangan. Para petani AS sangat terdampak oleh perang tarif ini. Mereka merupakan sumber utama dukungan politik domestik bagi Trump.
Sebenarnya, perundingan perdagangan di Malaysia pada akhir pekan lalu, mengatakan Beijing telah menyetujui pembelian “substansial” kedelai AS. Tapi pembahasan lebih lanjut akan dilakukan di pertemuan Trump dan Xi nanti.
*Perang Ukraina
Trump mengatakan, akan membahas serangan Rusia ke Ukraina dengan Xi Jinping. AS telah mendesak pembeli energi utama Rusia, termasuk China, mengurangi pembelian minyak Moskow.
AS dan Ukraina mengatakan pembelian itu mendanai mesin perang Rusia. China, mitra dagang utama Rusia, mengatakan bahwa mereka adalah pihak yang netral dalam konflik ini.
Trump telah berupaya memanfaatkan kedekatan pribadinya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, tetapi sejauh ini gagal mencapai kemajuan dalam mengakhiri perang. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada hari Selasa mendesak Trump untuk menekan Xi Jinping agar menghentikan dukungan bagi Rusia ketika mereka bertemu.
*Taiwan
Taiwan telah lama menjadi titik api dalam hubungan AS-Tiongkok. Beijing menganggap pulau dengan pemerintahan sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya, meski Taipe sebaliknya.
Sebenarnya AS hanya mengakui China dan bukan Taiwan. Tetapi hukum AS mewajibkan penyediaan senjata bagi Taiwan untuk pertahanan diri.
*Chip
Teknologi kecerdasan buatan juga diperkirakan akan dibahas. China telah menggenjot industri chip-nya untuk mengatasi pembatasan ekspor AS terhadap komponen penting yang digunakan untuk menggerakkan sistem AI.
CEO raksasa cip AS Nvidia, Jensen Huang, pada hari Selasa memperingatkan bahwa Washington harus mengizinkan penjualan cip AI buatan AS di China, agar Silicon Valley tetap menjadi pusat kekuatan AI global.
Chip perusahaannya saat ini tidak dijual di China karena kombinasi kekhawatiran keamanan nasional, larangan pemerintah Tiongkok, dan ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung.
*TikTok
Nasib platform media sosial TikTok juga berada di ujung tanduk. AS telah berupaya merebutnya dari tangan perusahaan induk China, ByteDance, dengan alasan kekhawatiran keamanan nasional.
Ekspektasi untuk kesepakatan ini tinggi. Trump menandatangani perintah eksekutif bulan lalu yang menyetujui penempatannya di bawah kendali sekelompok investor AS. “Penyelesaian transaksi dilakukan hari Kamis,” kata Menkeu Bessent.(r)
Editor: Edward






