Trump Umumkan Perang Besar ke Iran, AS-Israel Lancarkan Serangan Korban Jiwa Diperingatkan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto:Andrew Harnik/Getty Images)

Jakarta, Mediautama.news – Perang besar-besaran terhadap Iran resmi diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menggempur Israel serta tujuh negara yang menjadi lokasi basis militer AS di kawasan Timur Tengah.

Dilansir dari Reuters dan mengutip CNBC Indonesia, Minggu (1/3/2026), Trump sebelumnya telah memperingatkan pada Sabtu (28/2) bahwa konflik ini berpotensi menimbulkan korban jiwa dari pihak AS. Ia menyebut kemungkinan adanya tentara Amerika yang gugur dalam eskalasi perang tersebut.

Serangan ke Iran, menurut Trump, penting meski bayarannya adalah nyawa pasukan AS. Pasalnya, operasi ini bertujuan untuk menghancurkan rudal Iran dan memusnahkan angkatan lautnya.

Jika negara itu terus melanjutkan program nuklir dan rudal balistiknya, Pemerintah AS dan Israel akan menyerang Iran kembali dan ini sudah berulang kali diperingatkan .

Trump dalam sebuah video yang dibagikan di Truth Social, dikutip dari Reuters melansir CNBC Indonesia mengatakan, bahwa pemerintahannya telah mengambil setiap langkah yang mungkin untuk meminimalkan risiko terhadap pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun demikian, ia tidak mengatakan hal ini dengan mudah, karena rezim Iran juga berupaya untuk membunuh,” kata Trump dalam sebuah video yang dibagikan di Truth Social, dikutip dari Reuters.

Dikatakan Trump bahwa nyawa para pahlawan AS yang gagah berani mungkin akan hilang dan mungkin korban jiwa akan berjatuhan. “Itu sering terjadi dalam perang, tetapi kita melakukan ini, bukan untuk sekarang. Kita melakukan ini untuk masa depan, dan ini adalah misi yang mulia,” tegas Trump.

Gedung Putih kemudian mengatakan tidak ada rencana yang dikonfirmasi untuk pidato lebih lanjut oleh Trump.

*Rencana Serangan AS di Iran

Militer AS menamai operasi tersebut “Epic Fury,” kata Pentagon melalui X. Ini adalah kali kedua AS melakukan serangan terhadap Iran sejak Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu.

Serangan pertama terjadi pada Juni 2025, ketika Washington melakukan serangkaian serangan terhadap situs nuklir Iran. Serangan terbaru yang dimulai pada Sabtu (28/2) kemarin diperkirakan akan dilakukan selama beberapa hari, kata seorang pejabat AS kepada Reuters.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menghubungi para pemimpin kongres terkemuka yang dikenal sebagai “Gang of Eight” sebelum serangan itu, kata Perwakilan Jim Himes dari Connecticut, Demokrat terkemuka di Komite Intelijen DPR.

“Semua yang saya dengar dari pemerintah sebelum dan sesudah serangan terhadap Iran ini menegaskan bahwa ini adalah perang tanpa tujuan strategis akhir,” kata Himes.

“Seperti yang saya sampaikan kepada Menteri Rubio ketika dia memberi pengarahan kepada Gang of Eight, aksi militer di wilayah ini hampir tidak pernah berakhir baik bagi AS. Konflik dengan Iran dapat terus meningkat dengan cara yang tidak dapat kita antisipasi. Tampaknya Donald Trump belum belajar dari pelajaran sejarah,” ia menambahkan.

Ketua DPR Mike Johnson, yang juga merupakan salah satu anggota Gang of Eight, mengatakan kelompok itu telah diberi pengarahan secara perinci pada awal pekan ini bahwa aksi militer terhadap Iran mungkin diperlukan.

Rubio telah memberi tahu para pemimpin selama pengarahan di Gedung Putih pada Selasa (24/2), bahwa operasi tersebut kemungkinan akan dilanjutkan. Namun, ada upaya diplomatik untuk mencoba mencapai kesepakatan dengan Teheran yang dapat mengubah pemikiran Trump, kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Rubio memberi tahu Gang of Eight Jumat (27/2) malam bahwa operasi untuk menyerang Iran kemungkinan akan dimulai dalam beberapa jam berikutnya. Kendati demikian, ia mengatakan Trump masih dapat berubah pikiran, kata sumber tersebut.

Dalam pesan videonya, Trump mengatakan kepada anggota Korps Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata elit Iran, untuk meletakkan senjata mereka, menjanjikan bahwa mereka akan diberikan kekebalan. Pilihan lain, menurut Trump, adalah “kematian yang pasti”.

Washington dan Teheran mengadakan serangkaian pembicaraan dalam beberapa pekan terakhir tentang ambisi nuklir Iran. Yang terbaru diadakan pada Kamis (26/2) tanpa kesepakatan.

“Iran menolak, seperti yang telah mereka lakukan selama beberapa dekade. Mereka menolak setiap kesempatan untuk melepaskan ambisi nuklir mereka, dan kita sudah tidak tahan lagi,” kata Trump.

*Trump Ajak Warga Iran Lancarkan Kudeta

Trump pertama kali mengemukakan gagasan serangan terhadap Iran pada Januari 2026, di tengah protes nasional selama dua minggu, di mana ribuan orang tewas oleh pihak berwenang.

Ia mengatakan AS akan datang untuk menyelamatkan para demonstran jika pejabat Iran menembak dan membunuh mereka. Trump kemudian mendorong para demonstran untuk terus berdemonstrasi, dengan mengatakan bantuan sedang dalam perjalanan.

Trump menyebutkan pembunuhan para demonstran selama pernyataannya tentang serangan tersebut, dan mengatakan kepada warga Iran untuk berlindung karena bom akan dijatuhkan “di mana-mana”.

“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi,” katanya, ditujukan ke warga Iran.(r)

Editor: Edward