Jakarta, Mediautama.news – Studi terbaru mengungkap suhu lingkungan yang lebih panas dapat memengaruhi rasio kelahiran bayi. Penelitian menunjukkan, ketika suhu udara meningkat di atas 20 derajat Celsius, jumlah bayi laki-laki yang lahir cenderung menurun dibandingkan bayi perempuan.
Temuan tersebut diungkap tim peneliti dari University of Oxford melalui studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences. Penelitian ini menyoroti bahwa faktor lingkungan, khususnya suhu ekstrem, memiliki pengaruh terhadap komposisi jenis kelamin bayi yang lahir.
Selama ini rasio jenis kelamin saat lahir perbandingan antara bayi laki-laki dan perempuan dianggap relatif stabil dan terutama ditentukan oleh faktor genetik. Namun studi terbaru menunjukkan kondisi lingkungan juga dapat memainkan peran penting dalam proses tersebut.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis lebih dari lima juta data kelahiran yang berasal dari 33 negara di kawasan Afrika Sub-Sahara serta India. Hasil analisis menunjukkan bahwa paparan suhu panas dapat meningkatkan risiko kematian janin pada tahap awal kehamilan, dengan janin laki-laki dinilai lebih rentan dibandingkan janin perempuan.
Salah satu peneliti, Abdel Ghany, menjelaskan bahwa suhu lingkungan berpotensi memengaruhi proses reproduksi manusia secara mendasar. “Temperatur dapat menentukan siapa yang akhirnya lahir dan siapa yang tidak bertahan selama masa kehamilan,” ujarnya seperti dikutip dari Euronews, Kamis (12/3/2026), melansir CNBC Indonesia.
Ia menambahkan, temuan ini menunjukkan suhu memiliki konsekuensi yang terukur terhadap kelangsungan hidup janin sekaligus memengaruhi pola perencanaan keluarga. Dampaknya dapat berimplikasi pada komposisi populasi dan keseimbangan gender di masa depan.
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi ambang suhu sekitar 20 derajat Celsius sebagai titik awal perubahan rasio kelahiran. Ketika suhu melampaui angka tersebut, jumlah bayi laki-laki yang lahir cenderung menurun.
Sejumlah penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa paparan panas selama masa kehamilan dapat mengganggu kemampuan tubuh ibu dalam mengatur suhu. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko keguguran, terutama jika ibu mengalami dehidrasi yang dapat menghambat aliran darah, oksigen, dan nutrisi menuju janin.
Selain dampak biologis, suhu panas juga dinilai dapat memengaruhi keputusan keluarga terkait kehamilan. Para peneliti menyebut suhu ekstrem dapat memicu ketidakpastian ekonomi, membatasi mobilitas, hingga menghambat akses terhadap layanan kesehatan reproduksi.
Dampak panas pun tidak dirasakan secara merata. Perempuan yang memiliki keterbatasan sumber daya atau tinggal di wilayah rentan disebut lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Temuan ini menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya suhu global akibat perubahan iklim. Data dari World Meteorological Organization menunjukkan tahun 2024 menjadi salah satu periode dengan jumlah hari stres panas dan malam tropis tertinggi dalam catatan.
Para peneliti menilai perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan reproduksi manusia dan komposisi populasi global di masa depan. Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami lebih jauh bagaimana faktor lingkungan memengaruhi kehamilan serta memperkuat perlindungan kesehatan ibu.
Di sisi lain, sejumlah negara di Eropa juga melaporkan tren penurunan angka kelahiran dalam beberapa dekade terakhir. Para ahli menyebut tingkat kelahiran ideal untuk menjaga stabilitas populasi berada pada angka 2,1 anak per perempuan, sementara beberapa negara kini berada jauh di bawah angka tersebut, bahkan kurang dari 1,5.
Sebuah tinjauan sistematis oleh peneliti dari Pontifical Catholic University of Chile juga menyimpulkan bahwa peningkatan bencana alam dan kejadian terkait iklim dapat mengganggu berbagai aspek reproduksi, mulai dari proses konsepsi, kehamilan, kelahiran, kesuburan, hingga pengasuhan anak.(r)
Editor: Edward






