Jakarta, Mediautama.news – Ketegangan geopolitik kembali memanas. Iran dilaporkan menutup kembali Selat Hormuz, hanya beberapa saat setelah gencatan senjata dengan Amerika Serikat diumumkan.
Langkah ini dipicu serangan Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4) pagi waktu setempat, yang dinilai Teheran sebagai pelanggaran kesepakatan.
Laporan Fars News Agency melansir CNN Indonesia menyebutkan, penutupan jalur pelayaran vital dunia itu merupakan respons keras Iran terhadap aksi militer Israel. Teheran menganggap gencatan senjata mencakup penghentian serangan ke Lebanon.
Namun, pihak Israel menolak klaim tersebut dan menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam ruang lingkup kesepakatan dua pekan itu.
Situasi semakin kompleks setelah Donald Trump sebelumnya disebut menyepakati gencatan senjata berdasarkan 10 poin usulan Iran. Namun, Gedung Putih membantah telah menerima seluruh syarat yang diajukan Teheran.
Sempat mereda, ketegangan kembali meningkat. Dua kapal tanker yang sebelumnya diizinkan melintas kini menghadapi ketidakpastian, menyusul langkah Iran menutup kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang menjadi nadi distribusi energi global.
Sumber keamanan yang dikutip Fars News mengungkapkan, Iran tengah menyiapkan langkah lanjutan sebagai bentuk “operasi pencegahan” terhadap posisi militer Israel di wilayah pendudukan, menyusul dugaan pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata.
Sebelumnya, melalui pernyataan yang dirilis Mehr News Agency, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengonfirmasi adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan AS. Kesepakatan itu disebut dimediasi oleh Pakistan dan telah mendapat persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Namun, dengan kembali ditutupnya Selat Hormuz, tensi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi kembali meledak dan mengguncang stabilitas global.(r)
Editor: Edward






