BGN Paparkan Dampak MBG di Retret Ketua DPRD, Fokus Gizi Anak hingga Ekonomi Lokal

Paparan: Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyampaikan paparan perkembangan sekaligus dampak Program Makan Bergizi Gratis, dalam Retret Ketua DPRD se Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4/2026).(Foto:Dok/Humas BGN)

Magelang, Mediautama.news – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memaparkan perkembangan sekaligus dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Magelang, Sabtu (18/4/2026).

Program ini disebut sebagai langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tengah laju pertumbuhan penduduk yang tinggi.

Dalam paparannya, Dadan menjelaskan bahwa program MBG berangkat dari perhatian Presiden terhadap pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat, yang harus diimbangi dengan peningkatan kualitas generasi penerus.

“Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden. Indonesia masih tumbuh sekitar enam orang per menit atau tiga juta per tahun, dan diperkirakan mencapai 324 juta jiwa pada 2045. Persoalannya bukan hanya jumlah, tapi kualitas pertumbuhan itu sendiri,” ujarnya.

Ia menyoroti rendahnya rata-rata lama pendidikan masyarakat Indonesia yang masih berada di kisaran sembilan tahun. Kondisi ini berdampak pada pemenuhan gizi anak, terutama dalam akses terhadap makanan bergizi seimbang.

Menurutnya, banyak anak lahir dari orang tua dengan tingkat pendidikan rendah, sehingga pemahaman terhadap pentingnya gizi juga terbatas. “Sekitar 60 persen anak belum memiliki akses terhadap makanan bergizi seimbang. Bahkan, sebagian besar juga jarang mengonsumsi susu karena keterbatasan ekonomi,” ungkapnya.

Melalui Program MBG, pemerintah melakukan intervensi komprehensif yang difokuskan pada dua fase krusial, yakni 1.000 hari pertama kehidupan yang berpengaruh besar terhadap perkembangan otak, serta usia sekolah yang menentukan pertumbuhan fisik.

Dadan menegaskan, program ini diharapkan mampu menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kecerdasan generasi mendatang. “Harapannya, stunting dapat dicegah. Saat ini rata-rata IQ Indonesia masih di angka 78. Dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, anak-anak yang mendapatkan intervensi gizi sejak dini diharapkan tumbuh lebih sehat, lebih tinggi, dan menjadi tenaga kerja produktif,” jelasnya.

Selain berdampak pada kesehatan dan pendidikan, Program MBG juga dinilai memberi efek positif terhadap perekonomian daerah. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia melalui 27 ribu SPPG dengan total penyerapan anggaran mencapai Rp60 triliun. Dana itu tersebar dari Sabang hingga Merauke dan turut menggerakkan roda ekonomi, termasuk di tingkat desa.

“Alhamdulillah, program ini sudah berjalan di seluruh Indonesia dan menyerap anggaran Rp60 triliun yang berkontribusi langsung pada perputaran ekonomi di berbagai daerah,” pungkas Dadan.(Rz/Humas BGN)

Editor: Edward