Dua Minggu Tak Melaut, Nelayan di Sergai Kehilangan Penghasilan, Terancam Tak Makan

Ditambatkan: Tampak perahu nelayan yang ditambatkan di alur sungai di Kecamatan Teluk Mengkudu, Sergai, Selasa (4/4/2023).(Foto Atas dan Bawah).(Foto:Mu/dok).

Sergai, Mediautama.news – Sejak dua minggu terakhir, seratusan nelayan tradisional di Desa Sialang Buah dan Sentang, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, tidak melaut.

Menurut informasi dari nelayan, hal itu terjadi karena bahan bakar solar yang sulit didapatkan, kalaupun ada harganya cukup tinggi. Para nelayan pun terpaksa menambatkan perahu motornya di sepanjang alur sungai.

Pantauan wartawan, Selasa (4/4/223), tampak sepanjang alur sungai di kawasan setempat dipenuhi sampan-sampan nelayan.

Akibat tingginya harga solar ini, mereka memilih tidak melaut, karena biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Para nelayan mengaku kehilangan penghasilan dan terancam tidak makan.

“Semenjak harga Solar naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 10.000 perliternya pada pertengahan Maret lalu, kami kesulitan membelinya ,” ungkap Muhammad Buyung (53) salah seorang nelayan warga Dusun II Kampung Mulia Taiwan Desa Sialang.

Para nelayan di daerah ini yang jumlahnya sekitar 150 orang, mengaku kesulitan menghidupi keluarganya baik untuk makan sehari-hari ditambah biaya kebutuhan anak-anak mereka yang bersekolah. Belum lagi, sebentar lagi mau menghadapi lebaran.

Karenanya, nelayan di tempat ini berharap ada perhatian pemerintah untuk mencari soluasi terkait persoalan yang dihadapi mereka.

“Ya, harapan kami pemerintah bisa mencari solusi masalah yang kami hadapi ini. Cukup ironis sekali, untuk memenuhi makan sehari-hari saja kami sulit ,” kata nelayan lainnya, Syamsul Bahri. (Sb 1)

Editor: Edward