Jakarta, Mediautama.news – Hubungan romantis di tempat kerja bukanlah hal yang langka. Faktanya, fenomena ini jauh lebih umum daripada yang mungkin Anda kira.
Mungkin Anda pernah menyukai rekan satu tim yang cerdas dan menyenangkan, atau tertarik pada seseorang yang selalu bisa membuat Anda tertawa. Sama-sama lajang, sama-sama nyambung lalu muncul pertanyaan, apakah hubungan ini layak dibawa ke arah yang lebih serius?
Mengutip Psychology Today dan dilansir dari CNBC Indonesia, laporan Forbes tahun 2024 menyebutkan bahwa 60 persen orang dewasa pernah menjalin hubungan asmara di tempat kerja. Hubungan ini bisa terjadi antara sesama rekan kerja maupun antara atasan dan bawahan, dan mayoritas berlangsung secara konsensual. Meski begitu, dinamika semacam ini tetap memiliki risiko tersendiri, terutama dalam konteks profesional.
Secara sosial, wajar saja merasa dekat dengan rekan kerja. Meskipun hubungan kerja idealnya bersifat profesional dan platonis, interaksi yang intens, tekanan kerja bersama, serta kesamaan minat atau nilai hidup bisa menumbuhkan ketertarikan emosional—dan dari situlah benih-benih cinta bisa tumbuh.
Begitu hubungan menjadi publik, kolega lain akan merespons. Mereka mulai melihat pasangan tersebut sebagai satu kesatuan dan mulai timbul pertanyaan:
– Apakah mereka berbagi akses informasi yang tidak seharusnya?
– Apakah harus mengundang keduanya dalam setiap acara?
– Bagaimana jika mereka putus?
– Apakah hubungan ini membawa keuntungan tertentu yang tidak adil?
Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan, hubungan asmara di tempat kerja menimbulkan ancaman baru yang harus dihadapi oleh orang luar (dan mitra hubungan). Kekhawatiran akan keintiman, kesetiaan, dan stabilitas pasangan romantis dapat mengubah cara orang luar berhubungan dengan orang-orang yang ada di dalam hubungan tersebut.
Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang yang menjalin hubungan asmara di tempat kerja mungkin melakukannya dengan hati-hati, bahkan diam-diam, pada awalnya.
Riset oleh Chory & Gillen Hoke (2023) mengungkap, mereka yang terlibat dalam hubungan kantor cenderung meremehkan efeknya. Studi ini melibatkan 160 pekerja, setengahnya pernah menjalin hubungan di kantor dan setengah lainnya tidak.
Temuannya antara lain:
1. Tingkat kepercayaan menurun: Rekan kerja cenderung kurang mempercayai mereka yang menjalin hubungan asmara di kantor, lebih dari yang diperkirakan oleh pasangan tersebut.
2. Komunikasi jadi terbatas: Rekan kerja cenderung menahan informasi atau tak sejujur biasanya karena khawatir info tersebut akan sampai ke pasangan mereka.
3. Motif dipertanyakan: Ketika hubungan kantor dianggap dijalani untuk kesenangan pribadi atau keuntungan karier, kepercayaan rekan kerja terhadap pasangan itu menurun drastis.
4. Ada persepsi keistimewaan: Meski pasangan merasa hubungan mereka tidak memberikan perlakuan khusus, rekan kerja kerap merasa sebaliknya, bahkan bisa bersikap pasif-agresif atau tak kooperatif.
Meski sering tidak disadari pelakunya, hubungan di tempat kerja bisa merusak kepercayaan dan komunikasi antar rekan. Ini bisa berdampak pada kinerja tim dan dinamika organisasi. Namun bagi sebagian orang, cinta tetap lebih penting daripada potensi gangguan profesional.
Jika Anda sedang jatuh cinta di kantor, para ahli menyarankan untuk tidak merahasiakannya terlalu lama. Sebaiknya, kabarkan hubungan itu secara langsung ke rekan kerja, bukan membiarkannya menyebar lewat gosip. Studi Cowan & Horan (2014) menunjukkan rekan kerja lebih bisa menerima hubungan kantor jika mereka mendengar langsung dari sumbernya.(r)
Editor: Edward






