Jakarta, Mediautama.news – Kemajuan nyata di Jalur Gaza hanya akan terwujud jika seluruh hambatan terhadap penyaluran bantuan kemanusiaan dihapuskan, bukan sekadar dengan diberlakukannya gencatan senjata.
Hal itu ditegaskan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, menanggapi pengumuman kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera antara Israel dan Hamas.
Ia berharap kesepakatan tersebut menjadi langkah awal untuk mengakhiri agresi brutal Israel yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
“Semua pihak agar sepenuhnya mematuhi persyaratan kesepakatan yang telah disepakati. Namun, untuk mengubah gencatan senjata ini menjadi kemajuan nyata, kita membutuhkan lebih dari sekadar peredaman senjata ,” kata Guterres, melansir AFP, Kamis (9/10/2025) dan dikutip dari CNNIndonesia.
Sebelumnya, selama berbulan-bulan PBB mendesak Israel untuk menghentikan penghalangan pengiriman bantuan.
Untuk mencapai kemajuan, jelas Guterres, dibutuhkan akses penuh, aman, dan berkelanjutan bagi para pekerja kemanusiaan, penghapusan birokrasi dan hambatan serta pembangunan kembali infrastruktur yang telah hancur.
PBB menyatakan kesiapan penuh untuk memberikan dukungan segera, mampu menyalurkan makanan, air, pasokan medis, dan tempat tinggal bagi warga Gaza.
“Kami dan mitra-mitra kami siap bergerak-sekarang. Kami memiliki keahlian, jaringan distribusi dan hubungan komunitas yang siap untuk bertindak ,” tegas Guterres.
Pekan lalu, Kepala Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menyebutkan bahwa PBB telah mempersiapkan 170.000 ton bantuan kemanusiaan di wilayah sekitar, yang siap memasuki Gaza.
Selain isu bantuan, Guterres juga menyerukan semua pihak untuk mengambil kesempatan ini guna “menetapkan jalur politik ke depan yang kredibel.”
Jalur tersebut, tambahnya, harus menuju pada pengakhiran pendudukan, pengakuan hak penentuan nasib sendiri rakyat Palestina, dan pencapaian solusi dua negara.
Sebelumnya, Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata tahap pertama di Jalur Gaza, pada Rabu (8/10). Kesepakatan itu mencakup pembebasan seluruh sandera dari Gaza dan penarikan pasukan Israel.
Selain pertukaran tahanan, minimal 400 truk yang membawa bantuan kemanusiaan juga akan masuk ke Jalur Gaza setiap hari, selama lima hari pertama gencatan senjata. Penyaluran bantuan itu akan ditingkatkan pada hari-hari berikutnya.
Sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023 lalu, lebih dari 67 ribu warga sipil Palestina tewas dan bencana kelaparan akut kian parah di wilayah kantong tersebut.(r)
Editor: Edward






