Proyek Baterai Listrik Antam–Huayou Berlanjut, ESDM Tekankan Percepatan

Baterai Mobil FLP (Lithium Ferro-Phosphate).(Foto:dok. DHL)

Jakarta, Mediautama.news – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat realisasi kerja sama investasi ekosistem baterai kendaraan listrik antara konsorsium Zhejiang Huayou Cobalt Co dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

“Kedua perusahaan hingga saat ini masih melakukan pembahasan dan kajian terkait proyek tersebut ,” ungkap Sekretaris Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Ahmad Erani Yustika, saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Kamis (22/1/2026), mengutip CNBC Indonesia.

Proyek baterai ini, tegas Erani, masih berlanjut. Namun demikian, ia mengakui untuk proses finalisasi masih memerlukan waktu yang lebih panjang.

Oleh karena itu, Kementerian ESDM belum menetapkan target peletakan batu pertama alias groundbreaking proyek tersebut. Namun, sesuai arahan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, proyek ini harus bisa segera dieksekusi.

“Pak Menteri dalam hal ini ketika memimpin sih belum ada, tapi ini kan mesti dieksekusi secepat yang mungkin bisa dilakukan. Karena kan sumber dayanya ada, anggaran seharusnya tidak menjadi persoalan gitu kan,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan bahwa Antam dan Huayou tengah menyelesaikan perjanjian kerja sama untuk proyek investasi ekosistem baterai listrik bernama Proyek Titan. Meski begitu, ia tidak membeberkan hal apa yang belum disepakati antar kedua pihak tersebut.

“Titan ini kita lagi dorong untuk percepatan kerja sama antara Antam sama Huayou, lagi menyelesaikan perjanjian,” ungkap Yuliot saat ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/10/2025).

Sebagaimana diketahui, Zhejiang Huayou Cobalt resmi menggantikan LG Energy Solution (LGES) pada proyek investasi baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia. Adapun, perusahaan asal China tersebut nantinya akan menggarap proyek senilai US$ 8,6 miliar atau sekitar Rp 139 triliun.(r)

Editor: AR Manik Raja